Tempat para pecinta Suikoden Indonesia untuk berkumpul dan santai-santai (sekaligus melepaskan stress melalui lelucon garing)
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 The Story of Vangardia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: The Story of Vangardia   Wed Sep 17, 2008 10:27 pm

Prologue





Hujan turun begitu deras,
malam ini langit terlihat begitu gelap. Bulan sama sekali tak terlihat karena tertutup awan. Aku berjalan
sendirian, tanpa arah dan tujuan. Aku berjalan menyusuri hutan, berharap ada
tempat untuk berteduh dan beristirahat sementara. Tiba-tiba terdengar jeritan
seorang anak kecil.


“Tidak! Jangan mendekat!” teriaknya
dari kejauhan.


Akupun bergegas menuju tempat suara tersebut
berasal. Sesampainya disana, aku melihat seorang anak kecil yang tengah dikelilingi oleh kawanan serigala. Aku langsung mendekatinya
dan menenangkannya.


“Cepat pergi dari sini. Biar
aku yang mengatasi serigala-serigala ini,” ujarku kepadanya.


Kemudian, ia pun langsung
berlari menjauh dari tempat ini. Serigala-serigala ini pun kemudian semakin
mendekat kepadaku.


“Mereka tampaknya kelaparan.
Mungkin ini akan lebih sulit dari biasanya,” ujarku kepada diri sendiri.


Aku pun langsung mengeluarkan
senjataku. Senjataku berbentuk
pedang besar yang digenggam dengan dua tangan (Broad Sword). Serigala di depanku langsung menyerang, aku mengelak ke samping sambil
melukai tubuh bagian kirinya. Aku kemudian meloncat ke serigala di sebelah
kananku dan menusuk kepalanya. Tiba-tiba ada serigala yang menyerang dari
belakangku. Aku menahan taringnya dengan senjataku dan kemudian melemparnya.


“Hah… hah… hah… sepertinya
masih ada dua lagi yang harus dibereskan,” ujarku sambil terengah-engah.


Aku kemudian melemparkan
pedangku dan mengenai salah satu dari serigala itu. Lalu aku menendang serigala lainnya dan segera
mengambil senjataku. Serigala itu terluka dan kabur.


“Dia kabur… kuharap dia tidak akan kembali lagi,” ujarku.


Aku berjalan sambil mengatur nafasku yang
terengah-engah dan menahan rasa sakit dari lukaku akibat
pertarungan tadi. Sepertinya perutku terluka akibat serangan serigala tersebut.
Perlahan-lahan hujan mulai
berhenti, kemudian aku secara tidak sengaja menemukan sebuah kantong kecil dan jejak
kaki yang masih baru.


“Apa ini? Mungkinkah… Milik
anak yang tadi? Hmm, jejak
kaki ini masih baru. Sepertinya
jejak kaki ini mengarah ke tempat
tinggalnya,” ujarku.


Akupun berjalan
menyusuri jejak kaki itu dan akhirnya tiba di sebuah desa kecil. Desa itu tampak
begitu sederhana dan aku melihat beberapa orang sedang berjalan menuju ke
pemukiman sambil membawa cangkul dan keranjang. Dari penampilan mereka, sepertinya mereka adalah petani. Aku berjalan sambil
melihat-lihat sekeliling, kemudian ada seseorang yang berlari
dengan kencang dan menabrakku.


“Hey! Hati-hati kalau sedang
berjalan!” teriaknya kepadaku.


Ia pun langsung pergi dan
berbelok sehingga tidak terlihat lagi. Kemudian aku melihat anak yang tadi dari
kejauhan sedang berbicara dengan seorang pedagang yang sedang membereskan
barang dagangannya. Anak itu kemudian pergi, mukanya terlihat seperti kebingungan. Aku kemudian mendekati penjual itu dan bertanya.


“Tunggu sebentar, apakah kau
mempunyai Herb?” tanyaku kepadanya.


“Saya mohon maaf tuan, semua
barang daganganku sudah habis terjual,” jawabnya kepadaku.


“Sial...,” ujarku sambil
menahan rasa sakit.


“Hmm... Sepertinya lukamu cukup parah tuan.
Sebaiknya anda pergi ke tempat Xenoc. Dia adalah seorang Alchemist. Ia mungkin
mempunyai ramuan untuk mengobati luka anda,” ujarnya kepadaku.


Ia memberitahukanku bahwa
rumahnya terletak di bagian ujung dari desa ini. Alchemist mempunyai kemampuan
untuk meramu obat-obatan dan bahkan dapat membuat benda-benda berbahaya yang
dapat digunakan dalam pertarungan. Setelah berterima kasih pada pedagang itu, aku
pun bergegas ke rumah anak tersebut. Di ujung jalan terlihat sebuah rumah yang kecil dan sangat sederhana. Aku mengetuk pintu rumah tersebut kemudian muncul seorang kakek yang
membukakan pintu dan bertanya kepadaku.


“Hmm…? Aku belum pernah
melihat wajahmu di desa ini. Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu?” tanyanya
kepadaku.


“Maaf menganggu, aku ingin meminta tolong padamu untuk
mengobati lukaku ini,” ujarku kepadanya.


Kakek itu pun tersenyum dan
mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Di dalam, aku melihat seorang anak kecil menangis. Aku memperhatikannya dan
ternyata anak itu adalah anak yang kutemui di tengah hutan tadi.


“Kau sepertinya mengenal cucuku ini, namanya Lilith,” ujar kakek itu.


Aku berjalan menghampiri anak
tersebut.


“Bukankah kau anak yang tadi
kutemui di tengah hutan? Apakah ini yang kaucari?” tanyaku kepadanya.


Aku lalu memberikan kantong
tersebut kepadanya dan ia pun
berhenti menangis.


“Hiks… hiks… terima kasih. Kau
telah dua kali menolongku tuan.” ujarnya sambil menghapus air
mata.


“Ngomong-ngomong, sebenarnya
apa isi kantong itu? Dan kenapa kau berkeliaran di hutan malam-malam seperti
ini?” tanyaku kepada anak tersebut.


Kakek tadi kemudian
menghampiriku dan menjelaskan bahwa kantong tersebut berisi dedauanan yang
berfungsi sebagai obat. Dedauanan ini sering disebut sebagai Herb. Salah
seorang warga di desa ini terluka parah setelah kembali dari hutan dan untuk mengobatinya dibutuhkan Herb.


“Tadinya aku menyuruhnya untuk mengambil herb itu di daerah sekitar desa, tetapi
nampaknya tumbuhan itu telah habis di desa ini sehingga ia memutuskan untuk
mencarinya di hutan,” ujarnya.


Ia pun segera meramu obat dari Herb tadi dan
meminta cucunya untuk membantunya.


“Ngomong-ngomong, apakah kau
seorang Drifter? Sudah lama
tidak ada orang yang berkunjung ke desa ini. Bagaimana kau bisa sampai ke desa
ini?” tanyanya kepadaku.


Aku hanya terdiam dan kemudian ia melihat ke sebuah benda yang terbungkus kain di belakang punggungku dan bertanya.


“Benda apa yang kau bawa di
punggungmu itu? Tidak biasanya seorang Drifter membawa benda seperti itu,”
tanyanya kepadaku.


Aku terdiam dan tidak
menghiraukan pertanyaannya. Tiba-tiba,
terdengar suara teriakan meminta tolong.


Aku bergegas keluar dari rumah itu dan bertanya pada warga
sekitar. Mereka melihat
beberapa orang dengan perawakan yang tinggi dan besar berlari dan mencoba
memasuki rumah salah seorang warga dengan paksa. Mereka membawa senjata dan
pakaian mereka tampak lusuh dan kotor.


“Hmm... Dari penjelasan warga
desa, sepertinya mereka adalah bandit. Apa yang mereka lakukan di tempat ini?”
tanyaku pada diri sendiri.


Aku berlari menuju ke rumah warga desa yang terluka
tersebut dan sesampainya disana, aku melihat bandit-bandit
tersebut. Bandit-bandit itu berjumlah 4 orang dan sepertinya mereka sedang
membicarakan sesuatu. Aku bersembunyi dan mencoba mendengarkan pembicaraan
mereka.


“Kau yakin ini rumahnya?
Jangan sampai kita membuang-buang waktu di tempat ini. Aku tidak mau ada orang yang melihat wajah kita,” tanya bandit tersebut kepada temannya.


“Ya, aku sangat yakin. Tadi
aku sudah mengikutinya sampai kesini. Dan memang benar ini adalah rumahnya,”
jawabnya.


Ternyata orang yang menabrakku
tadi adalah salah satu dari bandit-bandit ini. Aku melemparkan batu ke rumah di
sebelah untuk mengalihkan perhatian mereka.


“Apa itu?! Sepertinya ada yang
mengikuti kita. Kalian berdua periksa tempat itu!” perintahnya
kepada dua temannya. Aku mengendap dan mendekati mereka dari belakang, tetapi
ternyata ada satu bandit lagi yang datang dan ia melihatku.


“Hey, apa yang kau lakukan?!” teriaknya kepadaku.


Aku pun langsung berlari dan
salah satu bandit itu melempariku dengan pisau. Aku mengelaknya dan segera bersembunyi di balik pohon. Para bandit itu berlarian mencariku, sepertinya aku tidak bisa
keluar untuk sementara ini.


“Sial, Hah…hah…hah… Seandainya
saja aku tidak terluka….” ujarku sambil terengah-engah.


Tiba-tiba terdengar teriakan
dari salah satu bandit tersebut. Aku bergegas keluar dari persembunyian dan
menuju ke rumah target mereka melalui halaman belakang rumah tersebut dan mendobraknya.


“Si... Siapa kau?! Jangan
sakiti kami.” teriak seseorang.


Di dalam rumah itu terlihat
seorang pria yang sedang terluka dan seorang wanita. Mereka berdua terlihat sangat ketakutan.


“Kau boleh mengambil semua
harta kami tapi, jangan sakiti kami dan pergilah dari tempat ini” ujarnya kepadaku.


“Aku tidak berniat menyakiti kalian. Cepat pergi dari tempat ini dan bersembunyilah di tempat yang aman,” perintahku kepada
mereka.


“Ka... Kau bukan salah
satu dari bandit itu?” tanyanya.


“Cepatlah pergi dari sini, bandit-bandit itu sedang
menuju ketempat ini” ujarku kepadanya.


Kemudian wanita itu memapah pria yang terluka tersebut dan pergi
meninggalkan tempat ini. Beberapa saat
kemudian, salah satu bandit tersebut mendobrak pintu depan rumah dan kemudian
muncul salah satu temannya. Mereka berdua melihatku dengan mata yang tajam. Sepertinya
mereka sangat marah padaku.


“Kau! Kau yang membunuh
temanku bukan?! Akan kubalas perbuatanmu itu! Akan kubunuh kau!” teriaknya
kepadaku.


“Membunuh?! Tu.. Tunggu dulu, Aku tidak pernah membunuh temanmu!” balasku kepada mereka.


“Jangan mengelak! Aku tidak
akan memberi ampun kepadamu!” teriaknya.


Tidak ada pilihan lain, akupun segera
mengeluarkan pedangku dan bersiap untuk menghadapi mereka.
Kedua bandit itu mempunyai sebilah pedang yang digenggam dengan satu tangan sebagai senjata mereka. Keduanya menyerang secara bersamaan, aku menangkis
pedang mereka berdua dengan senjataku kemudian aku menghempaskan mereka berdua
ke tembok. Aku kemudian menyerang bandit di sebelah kanan dan mengenai
lengannya. Tiba-tiba di belakangku, temannya menyerang. Aku menghindar tetapi
punggungku sedikit terluka. Mereka mendekatiku dari dua sisi dan kembali
menyerang secara bersamaan. Dengan punggungku yang terluka, aku tidak mungkin
bisa menangkis serangan mereka. Aku menyerang bandit di sebelah kiri dengan
nekat dan berhasil menusuknya di daerah perut. Tetapi, bahu sebelah kiriku
terluka karena sayatan pedang bandit tersebut.


“Sial... Sepertinya lukaku menjadi semakin parah,” ujarku sambil memegang bahuku yang
terluka.


Bandit yang tersisa juga
sedang terluka akibat seranganku sebelumnya. Kami saling bertatapan dengan tajam. Aku melempar senjataku ke arahnya dan ditangkis oleh bandit
itu. Tetapi, aku berhasil mendekatinya dan memukul perutnya. Bandit itu
terhempas dan aku segera mengambil senjataku lalu kutusukkan ke bandit tersebut. Tiba-tiba datang seorang bandit lagi dengan keadaan terluka.


“Sial, walaupun ia terluka,
tenagaku telah habis akibat pertarungan tadi.” ujarku.


Kemudian, seekor serigala
menyerang bandit itu dari belakang. Bandit itu terjatuh dan berusaha menahan taring
serigala tersebut.


“Sepertinya ini kesempatan
bagiku. Aku harus secepatnya pergi dari tempat ini.” ujarku.


Aku pun segera berlari dan menuju ke pintu belakang.
Tampaknya serigala tadi sama dengan serigala yang kulawan di hutan. Aku berlari
menuju ke lapangan di tengah-tengah desa. Di
sana terlihat banyak serigala dan mereka semua menyerang penduduk
desa yang sedang berlarian. Beberapa dari penduduk desa tersebut
terkapar dengan luka yang sangat parah.


“Ada apa ini..?! Kenapa serigala-serigala itu ada disini?!” ujarku.


Diantara serigala itu, terlihat
satu serigala yang sedang terluka. Serigala itu sama persis dengan
serigala yang tadi kuserang di hutan. Serigala itu melihatku
dan melolong. Aku berlari menjauh dari tempat tersebut sambil menghindari kejaran serigala-serigala
yang lain. Beberapa saat kemudian, terdengar suara lolongan yang sangat nyaring dan suara langkah kaki menuju ke dekatku.
Tiba-tiba, muncul seekor serigala yang lebih besar dan terlihat
sangat ganas. Kurasa serigala yang baru muncul itu adalah pimpinannya dan
merupakan yang terkuat.


“Sepertinya nasibku tidak
terlalu mujur hari ini. Mungkin... aku akan mati.” ujarku pada diriku sendiri.


Serigala-serigala yang lain
mundur dan memberi ruang yang cukup luas untuk kami. Aku melihat-lihat ke sekelilingku dan sepertinya tidak ada tempat untuk
bersembunyi.


“Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, aku harus memakainya. Tapi... Sudahlah, sepertinya hanya ini satu-satunya
cara,” ujarku.


Aku mulai membaca mantera dan muncul kobaran api yang berputar disekelilingku. Dari tubuhku,
keluar aura yang sangat kuat.


“Gahhh!!!! BERSERK RAGE!!!!!!”
teriakku.


Aura yang keluar dari tubuhku
berubah menjadi merah membara. Mataku beruah menjadi merah. Aku
langsung menyerang serigala itu dari arah depan. Mata serigala
itu terluka dan ia langsung berteriak kesakitan. Serigala itu menyerangku
dengan cakarnya secara membabi buta. Aku menghindari setiap serangannya dan memotong kaki depan sebelah
kanannya. Serigala itu terjatuh dan
terkapar. Aku menghujamkan senjataku ke kepalanya. Tetapi, serigala itu
menangkis dengan taringnya dan kaki kanan depannya berusaha
melukaiku. Untungnya, aku berhasil menangkisnya dengan satu tangan dan aku
menendang kepalanya. Serigala itu terkapar dan kelihatan tidak berdaya lalu aku bersiap-siap
untuk membunuhnya.


Tiba-tiba, dadaku terasa
sangat sakit. Aku terjatuh ke tanah dan tanganku memegang dadaku yang sakit
itu. Aku berteriak sangat keras dan kencang. Sekelilingku terasa gelap dan
akhirnya mataku terpejam.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Wed Sep 17, 2008 11:03 pm

Chapter 1 nya gak bisa dimuat karena kegedean. Nanti akan gw pisah dulu bagian-bagiannya biar bisa muat.

Klo ada yang mau bantu buat bikin visual novelnya, dengan senang hati saya terima.

Mohon kritik dan sarannya di post yang baru agar tidak memakan tempat di thread ini.

Thx
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sat Sep 20, 2008 1:31 pm






Chapter 1 : A Fragment Of Memory






“Heah!! Heah!! Hiyaa!!!”



Aku menggunakan pedangku untuk memukul pohon yang berada di depanku.




“Berhasil! Aku berhasil!” teriakku.



Pohon yang telah kupukul dari tadi tumbang dan terjatuh ke tanah.



“Sepertinya latihanku selama
ini tidak sia-sia. Bila aku terus berlatih seperti ini, maka tidak lama lagi
aku akan menjadi ksatria kerajaan,” ujarku dengan penuh semangat.



Tiba-tiba seseorang mendekatiku
dan memegang pundakku.



“Rith, apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan? Pohon itu terjatuh karena kau pukul
berkali-kali. Seranganmu
tampaknya tidak memiliki teknik yang baik. Seorang ksatria tidak boleh bertarung hanya dengan
mengandalkan kekuatan dan menyerang secara membabi buta.” ujarnya kepadaku.



“Gu… Guru Radd Menurutku tidak masalah apa pun cara yang kita tempuh, asalkan
kita bisa mengalahkan lawan kita. Untuk itu, aku akan menjadi lebih kuat.” balasku kepadanya.



Kemudian, ia tersenyum kepadaku
dan mengelus-elus rambutku. Ia lalu memandang ke langit.



“Suatu saat kau akan mengerti
kata-kataku. Ingatlah nasehatku ini, kekuatan yang sebenarnya akan muncul saat melindungi orang lain yang kau sayangi. Bukan
disaat kau ingin melukai orang lain.” ujarnya kepadaku.



“Nampaknya hari sudah mulai gelap. Kau harus beristirahat karena besok adalah hari yang penting.” ujarnya.



Guru Radd adalah pimpinan
tertinggi di tempat ini. Ia
merupakan salah satu orang terkuat di Vangardia, tetapi ia menolak saat
mendapatkan tawaran untuk menjadi ksatria kerajaan yang disebut juga sebagai Royal Knight. Ia mempunyai gelar sebagai Master karena kemampuan dan kebijaksanaannya.



Aku berjalan menuju ke ruang
makan. Di sana terdapat beberapa meja yang berukuran besar dan tersaji sejumlah
makanan yang cukup lezat. Tiba-tiba seseorang pemuda gendut berjalan mendekatiku.



“Hey, minggir kau anak bodoh! Berani-beraninya
kau menghalangi jalanku! Teriaknya kepadaku.



Pemuda gendut tersebut bernama
Bod. Ia adalah anak dari
salah satu pejabat tinggi di istana. Hal itulah yang membuatnya sering
bertindak seenaknya dan menganggap orang lain mempunyai kedudukan yang lebih
rendah daripadanya. Aku segera bangun dari tempat dudukku dan
menatapnya dengan tajam. Kemudian, aku menyerangnya dengan pukulan kearah
kepala. Dengan cepat, salah
satu temannya yang bertubuh besar menangkis pukulanku dengan tangannya.



“Dasar bodoh, memangnya kau pikir siapa dirimu? Berani-beraninya kau mencoba untuk
memukulku. Aku akan membuatmu menyesal!” ujarnya
dengan kesal.



Ia lalu memanggil
teman-temannya yang lain dan memerintahkan mereka untuk memukuliku. Aku hanya
bisa menerima pukulan-pukulan
tersebut dan dipermainkan
oleh mereka. Tiba-tiba guru Radd datang
dan melerai kami.



“Hentikan! Kalian tidak boleh
saling bertarung! Kembali ketempat kalian masing-masing!” perintahnya kepada
yang lain.



“Bertarung? Ini bukanlah suatu
pertarungan. Kami bahkan sama sekali tidak terluka oleh
serangannya. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah menjadi target latihan
kami.” balasnya kepada guru Radd.



“Hah, justru kaulah yang tidak
bisa bertarung! Kau hanya berdiri di belakang dan mengandalkan teman-temanmu
saja! Kalau kau memang berani, lawan aku secara jantan!” teriakku kepada Bod.



“Apa kau bilang?! Apa kau mau
kuhajar sampai babak belur?!” balas Bod kepadaku.



“Kalian berdua, berhenti! Aku
tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian kalau tidak mau berhenti juga,”
ujar guru Radd kepada kami.



Bod kemudian pergi bersama
teman-temannya dengan muka sinis. Kerumunan di sekitar kamipun membubarkan diri, kemudian guru Radd
membantuku berdiri. Sekujur tubuhku memar. Aku merasa sangat kesal atas sikap dan perlakuan Bod padaku.



“Guru tidak usah menolongku. Aku bisa mengatasinya sendiri,” ujarku sambil menahan rasa
sakit di sekujur tubuhku.



Aku pun langsung menuju ke
Barrack dan mengunci pintu kamarku.



Barrack adalah tempat
beristirahat para ksatria dan mempunyai ukuran yang sangat besar. Di dalamnya
terdapat banyak sekali kamar dengan satu tempat tidur, satu lemari, satu kursi
dan satu meja di setiap kamar. Selain kamar, terdapat juga sebuah ruangan luas
dengan banyak meja dan kursi. Ruangan tersebut digunakan untuk berinteraksi
dengan ksatria lainnya dan bersantai-santai saat tidak ada tugas atau latihan
dan disebut sebagai Community Room.



Lama-kelamaan aku mengantuk dan mataku terpejam. Mungkin aku terlalu
kelelahan akibat latihan dan juga keributan tadi. Tiba-tiba aku merasa ada yang aneh di
sekelilingku. Aku berjalan di kegelapan yang begitu pekat. Aku merasa
kedinginan dan ketakutan. Kemudian, muncul sebuah bola api yang membara dan
semakin mendekat kepadaku. Suhu
di sekitarku menjadi sangat panas dan aku merasa semakin ketakutan.



“Benda apa itu?! Menjauh dariku! Pergi…! Pergi…!” teriakku.



Bola api itu semakin mendekat
dan membesar. Kemudian, api itu berubah bentuk menjadi seorang manusia. Matanya begitu merah membara dan
disekelilingnya terdapat aura berwarna merah yang sangat panas.



“Wahai anak muda, akhirnya aku bisa bertemu
denganmu. Katakanlah padaku, apakah kau menginginkan kekuatan?” tanyanya.



“Si… Siapa kau?! Ja… Jangan dekati aku!” teriakku sambil ketakutan.



Dia kemudian menatapku dengan
tajam.



“Aku tanya sekali lagi. Apakah
kau menginginkan kekuatan?” tanyanya kepadaku.



Aku tidak bisa bergerak
sedikit pun karena rasa takut yang amat sangat dan hanya bisa memandang makhluk
tersebut.



“Baiklah kalau begitu, aku
akan menunggu jawaban darimu. Suatu saat kita akan
bertemu lagi,” ujarnya kepadaku.



Tiba-tiba, aku terbangun
dengan jantung yang berdebar. Aku melihat-lihat sekeliling dan kemudian
memegang kepalaku.



“Ternyata hanya mimpi. Tetapi,
sepertinya kejadian itu
terasa seperti kenyataan,” ujarku.






Aku langsung bangun dari
tempat tidur dan mengganti bajuku kemudian bergegas menuju ke ruangan latihan.
Baju yang kupakai adalah seragam ksatria junior. Warna dasarnya adalah coklat
terang dan terdapat lambang ksatria Arcania di bagian dadanya.



Sesampainya disana, semua orang telah berbaris
dengan rapi. Nampaknya aku terlambat untuk mengikuti upacara penyambutan. Aku
berjalan di belakang barisan sambil mencari-cari barisan yang masih kosong. Tiba-tiba,
seseorang menarikku.



“Hey, kemana saja kau?
Sebentar lagi Jenderal Zieg akan datang. Kau baris di sini saja bersamaku,” ujarnya.



Dia adalah Eric. Sama
denganku, dia juga seorang ksatria Arcania. Ia satu tim denganku. Tiap tim
beranggotakan 4 orang dengan 1 orang komandan sebagai pemimpinnya. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi terompet. Sepertinya
jenderal Zieg telah datang, sambutannya begitu meriah dan terdengar suara tepuk
tangan dimana-mana. Lalu, munculah seorang pria tinggi yang mengenakan jubah
berwarna perak. Tubuhnya sangat besar dan kekar. Dipunggungnya terdapat sebuah
pedang yang berukuran sangat besar. Jauh lebih besar dari pedang dua tangan yang biasa aku lihat. Dia berjalan dengan gagah dan tegak
sampai ke sebuah podium di tengah-tengah panggung. Kemudian ia memberikan
sambutan di podium.



“Saya ingin mengucapkan terima
kasih kepada semua yang ada disini. Sambutan yang kalian berikan sangat meriah.
Arcania adalah salah satu dari 5 Guild terhebat di kerajaan ini. Aku mengharapkan kemampuan kalian untuk menghadapi kerajaan Salidan 6 hari yang akan datang dan pada saat itu, aku sendiri yang akan
memimpin perang tersebut. Hidup Vangardia!” sahutnya kepada seluruh peserta.



Setelah itu, jenderal Zieg
melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan podium. Kami pun membubarkan
diri dengan teratur dan keluar dari ruangan aula.



Guild merupakan tempat dimana
para ksatria dididik dan dilatih agar dapat melindungi kerajaan Vangardia apabila sewaktu-waktu terjadi perperangan.



“Kudengar jenderal Zieg akan
tinggal disini selama satu
hari untuk memantau latihan
kita,” ujar Eric kepadaku.



“Komandan Sagas telah menunggu
kita. Lebih baik kita segera berkumpul di gerbang utara,” ujarku kepada Eric.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sharing The Fate
Admin


Female
Jumlah posting : 148
Age : 25
Registration date : 22.05.08

Written On The Star
Star of Destiny: Chiketsu Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sat Sep 20, 2008 10:48 pm

Mu-mungkin dirapikan sedikit lagi, soalnya kelihatan agak berantakan postnya. Udah bagus, sih :D

_________________


Sampai kapanpun, kita manusia tidak akan pernah berhenti berperang. Kita cuman bisa mengurangi penderitaan yang diakibatkan perang itu.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://sharingfatetogether.forummotion.com
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:04 am






Kami segera berlari menuju ke
gerbang utara. Disana, komandan Sagas telah menunggu kami. Komandan adalah
pimpinan tim kami. Umurnya 22 tahun dan dia telah menjadi ksatria Arcania sejak
5 tahun yang lalu. Keahliannya tidak diragukan lagi karena ia merupakan salah
satu dari 10 ksatria terhebat di Arcania.



“Kenapa kalian selalu
terlambat. Seorang ksatria harus selalu disiplin. Apa kalian tahu akibatnya bila kita terlambat saat
akan menyelamatkan seseorang?” ujarnya kepada kami berdua.



“Ma… Maaf, kami akan berusaha
untuk tidak terlambat lagi,” ujar Eric sambil merunduk meminta maaf.



Dalam tim kami terdapat dua
orang lagi, yaitu Alex dan Mia. Mereka berdua memiliki umur yang sebaya dengan
kami. Komandan lalu
memerintahkan kami untuk berbaris.



“Kali ini kita akan melakukan
latihan bertarung di hutan Alzenith. Lokasinya terletak di
sebelah utara, tidak jauh dari Arcania, jadi kita hanya perlu membawa sedikit perlengkapan
saja,” ujarnya kepada kami.



“Tetapi komandan, bukankah di
hutan itu kita harus menggunakan sihir untuk mengalahkan monster yang muncul?
Setahuku, Rith masih belum mahir dalam menggunakan sihir. Pertarungan ini akan menjadi semakin sulit bila ia
gagal lagi,” ujar Alex kepada komandan.



“Alex, sepertinya omonganmu
terlalu berlebihan,” ujar Ami.



“Huh! Ia bahkan tidak membalas saat kemarin diserang oleh Bod,” ujar Alex.



“Tidak, aku yakin kalau
latihan ini akan berhasil dengan baik. Lagi pula, aku sangat yakin dengan kemampuan kalian,” ujarnya.



Kemudian, kami membubarkan
diri dan mempersiapkan seluruh perlengkapan kami. Setelah beberapa saat
kemudian, kami berkumpul kembali di gerbang utara. Komandan lalu memberikan
instruksi kepada kami tentang keadaan dan bahaya di hutan. Setelah itu, kami
keluar dari Arcania melalui gerbang utara dan berjalan menuju ke hutan
Alzenith.



“Sepertinya, perasaanku buruk tentang latihan ini. Tempat ini terlihat lebih suram dan lebih sunyi dari biasanya,” ujar
Ami.



“Ya, hutan ini tampaknya lebih sunyi dan lebih gelap
dari biasanya. Aku sama sekali tidak melihat ada binatang di sekitar sini,” ujar
Alex.



“Sudahlah, kita harus tetap
berkonsentrasi pada latihan kita. Kita tidak boleh gagal dalam latihan ini,” ujar
Eric.



Aku hanya terdiam mendengarkan
percakapan mereka. Pikiranku
tertuju pada kejadian semalam saat aku bermimpi. Mimpi tersebut terasa sangat
nyata dan aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat.



Alex merupakan orang yang
terkuat di antara kami selain komandan. Ia selalu mendapatkan nilai yang tinggi
dalam ujian dan selalu berhasil dalam melakukan hal-hal yang sulit.



Ami adalah seorang ksatria
wanita. Sangat sedikit wanita yang bergabung untuk menjadi ksatria karena
pekerjaan ini lebih mementingkan kekuatan fisik. Walaupun begitu, seorang
ksatria harus memiliki mental dan jiwa yang kuat agar tidak mudah dikalahkan oleh musuhnya.



Beberapa jam kemudian, kami sampai ke sebuah pohon besar. Pohon ini adalah
salah satu pohon utama penyokong hutan ini dan disebut sebagai The Tree Of Ages
dan telah tumbuh selama ribuan tahun.



“Aku akan menggunakan mantera
pemanggil monster. Kalian segera bersiap-siaplah untuk menghadapinya,” perintahnya
kepada kami.



“MONSTER GATHERING!!!” teriaknya.



Kemudian terdengar suara
raungan binatang dan suara langkah kaki. Suara tersebut semakin mendekat dan
muncullah sekawanan Goblin. Kami mengeluarkan senjata kami dan membuat formasi.
Komandan Sagas berada di paling depan. Formasi kami adalah formasi anak panah
(Arrow Head). Aku dan Eric berada di tengah sedangkan Mia dan Alex berada di
belakang. Goblin-goblin tersebut mengelilingi kami membentuk setengah
lingkaran.



“Aku akan mengalihkan
perhatian mereka, kalian bereskan yang lainnya,” perintahnya kepada kami.



Komandan lalu langsung
menyerang goblin yang terdepan dan menghunuskan senjatanya ke goblin tersebut.
Goblin-goblin yang lain bergerak menuju komandan untuk menyerangnya. Aku dan
Eric menangkis serangan dua goblin terdepan. Alex dan Ami menyerang dua goblin
di belakang dengan serangan yang telak. Eric menghempaskan goblin di depannya
dan bergerak untuk menyerang goblin yang sedang kutangkis. Komandan lalu
menyerang goblin yang dihempaskan Eric tadi.



“Tampaknya semua Goblinnya
telah kita kalahkan. Bersiap-siaplah untuk monster yang selanjutnya. Kali ini, kita akan memakai sihir,” perintahnya
kepada kami.



Kami menggunakan Herb untuk
mengobati luka kami. Kemudian, komandan kembali membaca mantera kemudian terdengar
kembali suara raungan. Kali ini suaranya terdengar lebih besar dan nyaring.
Sepertinya monster ini lebih kuat dari yang tadi. Tiba-tiba, muncul sekawanan beruang
berjalan mendekati kami. Beruang-beruang tersebut berjumlah 6 ekor.



“Sepertinya kita kalah jumlah.
Kalian urus 4 beruang yang ada. Aku akan menahan 2 ekor beruang di depan,” perintahnya kepada kami.



Kami kembali membentuk
formasi. 3 orang berada di depan yaitu komandan di tengah, Alex di sebelah
kanan depan, dan aku di sebelah kiri depan sedangkan Mia dan Eric berada di
belakang.



“Komandan… Kenapa aku berada di posisi depan? Aku tidak begitu ahli dalam
menggunakan sihir,” ujarku kepada komandan.



“Kali ini aku yakin kau bisa
melakukannya. Konsentrasi
pada pertarungan dan jangan takut. Pertarungan ini akan kita menangkan bila
kita bekerja sama,” ujarnya.



“Ta… Tapi…,” ujarku
dengan ragu.



Komandan mulai membaca mantera. Sekeliling tubuhnya mengeluarkan aura dan
aura tersebut berubah menjadi api dan berkumpul di senjatanya. Senjatanya
menjadi membara dan panas seakan dapat melelehkan apapun yang disentuhnya.



“RAGING SWORD!!!” teriaknya.



Mantera tersebut adalah
mantera untuk mengeluarkan sihir api. Sihir yang biasa digunakan oleh seorang
ksatria adalah sihir jenis Support (sihir yang digunakan untuk membantu dalam
penyerangan) dan jurus ini merupakan salah satu dari jurus-jurus lainnya yang
dipelajari dan digunakan oleh seorang ksatria. Api yang menyelimuti senjata
kami dapat menaikkan kekuatan serangan kami sehingga kami bisa lebih mudah
untuk mengalahkan musuh.



Ia lalu menyerang 2 beruang
yang ada di depan. Alex kemudian membaca mantera yang sama dengan komandan dan
menyerang beruang di dekatnya begitu pula dengan Eric dan Ami. Aku mencoba
membaca mantera yang sama, tetapi beruang di dekatku menyerangku lebih dulu.
Untungnya, aku berhasil menghindar tetapi lengan kananku terluka.



“Rith! Cepat baca manteranya! Beruang
itu hanya bisa dikalahkan dengan sihir!” perintah komandan kepadaku sambil menyerang beruang di dekatnya.



Aku mencoba untuk membaca
mantera tersebut sekali lagi, tetapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Beruang di
depanku kembali menyerangku. Aku menangkisnya dengan senjataku. Tetapi, dengan
tanganku yang terluka, aku semakin terpojok. Alex, Eric dan Ami masih sibuk
bertarung dengan beruang di dekat mereka. Beruang itu semakin menekanku, aku
terjatuh ke tanah dan dan senjataku terlempar ke sampingku. Dengan keadaan
terkapar, aku hanya bisa melihat beruang tersebut mencoba untuk menyerangku.
Tiba-tiba, komandan datang dan melindungiku dengan punggungnya. Luka yang didapatnya sangat dalam. Ia mencoba untuk berdiri tetapi, dia terlihat
sangat lemas.



“Ko… komandan…,” ujarku.



Beruang tadi kembali menyerang
komandan dan melukai bagian pundak sebelah kirinya. Aku hanya bisa terdiam dan
melihatnya dengan penuh ketakutan. Kemudian, muncul satu lagi beruang.
Nampaknya, komandan baru menghabisi satu beruang saja saat akan menolongku.



“Gawat. Mungkin aku akan mati bila diserang oleh kedua beruang
tersebut,” ujarnya.



Kedua beruang tersebut
menyerang komandan secara bersamaan. Komandan sama sekali tidak bergerak.
Nampaknya serangan kedua beruang tersebut akan mengenai komandan dengan telak
dan dapat membunuhnya.



“Komandan!!!!” teriak Ami,
Alex, dan Eric.



Aku memejamkan mataku karena
tidak berani melihat hal itu. Aku begitu takut sehingga sama sekali tidak bisa
bergerak dan bahkan berbicara. Tiba-tiba, aku merasakan ada air yang mengenai
tubuhku.



“A… Air? Tidak… Ini bukan air biasa. Air ini terasa kental dan baunya seperti… Darah?!” ujarku dalam hati sambil
terpejam.



Aku langsung membuka mataku
dan melihat komandan terkapar ditanah. Aku berteriak dan mendekatinya. Matanya
terpejam dan tubuhnya berlumuran darah. Lalu, seseorang mendekatiku dan
menenangkanku.



“Tenanglah dia belum mati.
Kami telah membunuh kedua beruang tersebut sebelum mengenainya. Nampaknya ia
pingsan akibat terlalu banyak mengeluarkan darah,” ujarnya.



Aku menatap orang tersebut dan
mengamatinya. Ia memakai baju berwarna perak dengan beberapa pelindung di
bagian tubuhnya dan terdapat 2 orang dengan pakaian yang sama dibelakangnya.



“Bukankah kalian ksatria
kerajaan? Sepertinya kita selamat. Terima kasih atas bantuannya,” ujar Eric.



Ksatria kerajaan adalah ksatria
tingkat tinggi yang ditugaskan untuk melindungi kerajaan Vangardia. Mereka
bertempat tinggal di istana dan semuanya merupakan prajurit-prajurit dengan
keahlian yang tinggi.



Nampaknya Eric, Alex, dan Mia
telah berhasil mengalahkan beruang-beruang lainnya. Sedangkan aku hanya bisa
terdiam dan melihat komandan diserang tanpa bisa membantunya sedikit pun.



Kami diantar oleh para ksatria
tersebut kembali menuju Arcania. Sesampainya di gerbang utara, kami
diperintahkan oleh mereka untuk kembali ke Barrack. Kami kemudian segera
berjalan menuju ke Barrack dan berkumpul di Community Room. Sepertinya ruangan
ini sedang kosong karena saat
ini tim lainnya masih berlatih di luar.



“Kuharap komandan Sagas
baik-baik saja. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menolongnya,” ujar Eric.



“Tidak, ini bukan kesalahanmu.
Komandan terluka karena si bodoh itu. Ia hanya bisa menyusahkan orang lain
saja. Kalau saja dia tidak dilindungi oleh guru Radd, mungkin ia
sudah dikeluarkan dari tempat ini dari dulu,” ujarnya dengan kesal.



“Alex, Bukan hanya Rith yang bersalah. Kita semua juga
bersalah karena tidak bisa menolong komandan!” balasnya kepada Alex.



“Sudahlah Mia! Ini semua
terjadi karena kesalahanku. Aku
memang hanya akan mempermalukan Arcania saja. Mungkin sebaiknya aku dikeluarkan
dari tempat ini seperti kata Alex,” ujarku kepada Mia.



Aku lalu beranjak dari tempat
dudukku dan berjalan menuju ke kamarku.



“Rith…,” ujar Eric.



“Huh, aku sudah muak satu tim
dengannya. Lebih baik aku pindah ke Guild lain agar aku tidak bertemu dengannya
lagi. Aku mau mencari udara segar dulu diluar,” ujar Alex dengan kesal.



Ia pun beranjak dari tempat
duduknya dan berjalan ke pintu keluar. Sementara itu, komandan Sagas telah
diantar oleh pasukan kerajaan ke Medical Center. Tempat itu adalah ruangan
dimana ksatria-ksatria yang terluka dalam pertempuran dirawat dan diobati.
Orang yang bertugas di tempat tersebut adalah para Alchemist dan Magician. Magician
adalah orang-orang yang dapat menggunakan sihir tingkat tinggi. Mereka sering
disebut sebagai Mage. Di tempat ini, sihir yang mereka gunakan adalah Healing
Magic (sihir penyembuhan). Komandan Sagas tampaknya baru saja sadar dan disebelahnya tampak guru
Radd.



“Bagaimana keadaanmu sekarang?
Kau terluka cukup parah tadi. Sepertinya dugaanku benar tentang masalah ini,
walaupun aku benci untuk mengakuinya,” ujar Guru Radd kepada komandan.



“Aku merasa jauh lebih baik
sekarang. Kau benar Master. Binatang-binatang di hutan menjadi lebih kuat dan
agresif. Mereka sepertinya telah dipengaruhi oleh sesuatu,” ujar komandan.



“Hmm… Jenderal Zieg telah
memerintahkan para ksatria kerajaan untuk memperketat penjagaan di tempat ini.
Kita juga telah menerima bantuan pasukan dari Guild Reincas. Sepertinya musuh
kita kali ini lebih pintar dari yang kita duga,“ ujarnya.



Di dalam kamar, aku terus
memikirkan kejadian tadi. Pikiranku begitu kacau sehingga aku memutuskan untuk
berjalan ke tempatku biasa berlatih. Matahari tampaknya mulai terbenam.
Sesampainya disana, aku mengeluarkan senjataku dan mulai berlatih. Aku terus menerus mencoba untuk
menggunakan sihir dan memfokuskannya di pedangku, tetapi aku selalu gagal.


Tidak terasa, aku telah berlatih selama satu jam
dan banyak keringatku yang keluar. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak
dan bersandar di balik pohon. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di
belakangku. Aku langsung berdiri dan mengeluarkan
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:04 am

senjataku. Ternyata, dia
adalah seorang wanita. Ia mempunyai rambut berwarna coklat dengan panjang
sampai ke bahunya.


“Ma… Maaf. Sepertinya aku
terlalu terbawa emosi saat berlatih tadi sehingga aku tidak bisa mengendalikan
tindakanku ini,” ujarku kepadanya.


“Tidak apa-apa.
Ngomong-ngomong, apakah kau ksatria yang bernama Rith?” tanyanya kepadaku.


“Ya, namaku Rith. Memangnya ada apa? Tidak biasanya ada orang yang
mencariku,” balasku kepadanya.


“Syukurlah, aku sudah
mencarimu kemana-mana. Untungnya aku bertemu temanmu yang bernama Eric dan dia
memberitahukan tempat ini kepadaku. Master Radd ingin bertemu denganmu. Dia
menyuruhmu untuk menemuinya di gedung Central,” ujarnya kepadaku.


Kemudian, ia pun pamit dan
segera pergi. Aku mengamati pakaiannya dan sepertinya ia adalah seorang
Magician.


“Aneh, kostum itu bukanlah
kostum yang biasa digunakan oleh para Mage di Medical Center,” ujarku dalam
hati.


Aku segera berjalan menuju ke
gedung Central. Gedung Central merupakan pusat dari Guild ini dan disana
tinggal para petinggi yang mengurusi keseluruhan dari
Guild ini beserta semua kegiatannya. Ruangan guru Radd terletak di lantai 4 dan
merupakan lantai tertinggi. Aku mengetuk pintu dan kemudian Master Radd
mempersilahkanku untuk masuk.


“Master, aku telah datang
sesuai perintahmu,” ujarku kepadanya.


“Sudahlah, tidak usah terlalu
formal seperti itu. Aku memanggilku ke sini karena ada hal yang ingin kusampaikan kepadamu,” ujarnya.


Ia lalu memyuruhku untuk
duduk. Kemudian, ia mengambil sesuatu dari kotak di mejanya.


“Aku ingin kau menyimpan benda ini. Benda ini sangat penting
bagiku dan aku ingin kau
menjaganya,” ujarnya.


Benda itu tampak seperti
kristal berwarna biru tua. Diameternya berukuran sekitar 10 cm. Ia lalu menyerahkan benda tersebut kepadaku.


“Guru, sepertinya aku tidak bisa
menerimanya. Aku takut kalau aku tidak bisa menjaga benda
ini. Mungkin aku hanya akan mengecewakan guru saja.
Lagipula, aku telah gagal melindungi komandan dan teman-temanku. Akan lebih baik jika Guru
mengeluarkanku dari Guild ini,” ujarku kepadanya.


Guru Radd kelihatan sangat
marah dan memandangku dengan tajam.


“Rith! Aku kecewa dengan
kata-katamu tadi! Seorang ksatria tidak boleh memiliki mental yang lemah seperti
itu! Sekarang ambillah benda ini dan perbaikilah mentalmu itu!” teriaknya
kepadaku.


Aku lalu tersentak dan mengambil kristal tersebut kemudian aku berjalan keluar dari gedung Central. Tiba-tiba, aku bertemu komandan Sagas
di dekat pintu keluar. Ia terlihat jauh lebih baik, walaupun masih terdapat perban di beberapa bagian tubuhnya. Ia mencoba menyapaku, tetapi aku hanya terdiam dan pergi meninggalkannya. Dengan sedikit heran,
komandan berjalan menuju tempat guru Radd.


“Master, aku datang sesuai
perintahmu,” ujarnya kepada guru Radd.


“Sagas… Apa kau bertemu dengan
Rith tadi?” tanyanya kepada komandan.


“Ya, dia tampak begitu murung.
Apa ada sesuatu yang terjadi
dengannya? Dan… Kristal yang dibawanya itu. Bukankah itu…,” ujar komandan.


Guru Radd lalu berdiri dan
memandang kearah jendela.


“Dia banyak mendapatkan
tekanan dari lingkungannya, tetapi aku yakin dia bisa mengatasinya,” ujar
guru Radd.


“Tapi… Bukankah akan lebih baik jika ia tidak terlibat
dalam hal ini?” tanya komandan.


“Mungkin kau benar. Tapi, walau bagaimana pun juga, ia akan
tetap terlibat dalam hal ini. Karena... Ini adalah takdirnya,” ujar guru Radd.


“Rith....” ujar komandan.


“Aku mengerti perasaanmu.
Sebenarnya aku ingin dia menjadi seorang prajurit biasa seperti yang diharapkan
oleh ayahnya, tetapi sepertinya hal ini tidak bisa dihindari,” ujar guru Radd.


Aku berjalan menuju ke Barrack
sambil memegang bola kristal tersebut. Pikiranku terus tertuju pada perkataan
guru Radd tadi sambil memperhatikan benda pemberiannya itu. Tiba-tiba, ada
seseorang berjalan berlawanan arah denganku sambil membawa setumpuk kotak.
Tumpukan tersebut menutupi seluruh bagian depannya termasuk kepalanya. Ia
berjalan tidak beraturan dan akhirnya menabrakku. Kami sama-sama terjatuh dan tumpukan kotak serta
kristalnya pun ikut terjatuh.


“Ma…Maaf, aku tadi tidak bisa
melihat jalan. Aku
benar-benar minta maaf. Aduh, cerobohnya aku,“ ujarnya sambil membereskan
tumpukan kotak yang jatuh berantakan.


“Tidak, aku yang salah. Aku
tadi sedang memikirkan sesuatu dan tidak memperhatikan jalan,” ujarku kepadanya
sambil mencari-cari kristal yang terjatuh.


Kami mengurusi barang kami
masing-masing yang terjatuh sambil melihat kebawah. Aku melihat kristal
tersebut di atas sebuah kotak dan mencoba mengambilnya. Tiba-tiba, tangannya
memegang kristal tersebut dan secara tidak sengaja aku menyentuh tangannya.
Kami saling bertatapan dan ternyata, orang yang menabrakku tadi adalah wanita
yang menemuiku di tempat latihan beberapa saat yang lalu. Aku dengan cepat
menarik tanganku dari tangannya.


“Maaf, aku hanya ingin
mengambil kristal itu. Aku tidak bermaksud lain, sungguh,” ujarku sambil
tersipu malu.


“Ah, tidak apa-apa. Lagipula,
akulah yang terlalu ceroboh sehingga menabrakmu,” ujarnya juga sambil tersipu.


Aku lalu mengambil kristal
tersebut dan membantunya membereskan kotak-kotak yang berserakan.


“Kau sepertinya kerepotan, biar
aku membantumu membawanya,” ujarku.


Ia tersenyum kepadaku.
Kemudian, kami berjalan berdua sambil membawa kotak-kotak tersebut.


“Ngomong-ngomong, kotak-kotak
ini mau dibawa kemana? Dan kenapa tadi kau membawa kotak sebanyak itu sendiri?
Bukankah lebih mudah jika kau meminta bantuan orang lain untuk membawakan kotak-kotak ini?” tanyaku kepadanya.


“Aku ditugaskan oleh
komandanku untuk membawa kotak-kotak ini ke Medical Center. Teman-temanku
sedang mengurusi barang yang lain. Supaya cepat selesai, aku memutuskan untuk
membawa semua kotak tersebut. Tapi, kotak-kotaknya begitu banyak sehingga aku kesulitan
untuk melihat jalan,” balasnya kepadaku.


Dia kelihatan sangat polos.
Tampaknya ia sedikit lebih pendek dariku dan memiliki sifat yang sedikit ceroboh. Sambil berjalan, aku sesekali melihatnya. Jantungku berdebar dengan kencang dan aku sepertinya tidak berani melihat
langsung ke matanya.


“Oh iya, aku belum
memperkenalkan diriku. Namaku Lenny dan aku adalah seorang Magician. Senang
bertemu denganmu,” ujarnya.


“Senang bertemu denganmu juga.
Namaku Rith, seperti yang kau tahu, aku adalah ksatria di tempat ini. Aku tidak
pernah melihat Magician sepertimu bekerja di Medical Center,” ujarku kepadanya.


“Aku sebenarnya adalah
Magician dari Guild Reincas. Beberapa anggota guild kami ditugaskan di tempat
ini untuk sementara oleh jenderal Zieg. Aku mengajukan diri untuk tugas ini
karena aku ingin sekali berpergian ketempat lain. Rasanya menyenangkan sekali
bisa melihat tempat dan hal-hal yang baru,” ujarnya.


Guild Reincas adalah tempat para Magician dilatih. Guild tersebut
terletak di daerah pegunungan Graith yang lumayan jauh dari tempat ini. Berbeda
dengan Magician di medical center, Magician di Reincas menguasai sihir-sihir
tingkat tinggi dan memiliki jenis sihir
yang sangat beragam.


Setelah berjalan selama beberapa saat, kami tiba di Medical Center
dan disana kami menemui seorang Magician yang telah menunggu kotak tersebut.


“Kenapa lama sekali? Aku
sangat lelah menunggu kalian. Cepat taruh kotak-kotak itu disana,” ujarnya
sambil menunjuk ke sudut ruangan.


“Maaf, aku tadi mengalami
kesulitan untuk membawa kotak-kotak ini,” ujar Lenny kepada Magician tersebut.


Kami lalu menaruh kotak-kotak
tersebut di sudut ruangan dan berjalan ke luar dari Medical Center. Di luar, Lenny berterima kasih kepadaku
dan segera pergi karena ia harus mengurusi barang-barang yang lain. Aku
memandanginya saat ia berjalan menjauhiku dan tersenyum. Tiba-tiba, seseorang
datang dan menghampiriku sehingga membuatku terkejut.


“Hey! Sepertinya kau sedang
terbinat-binar hari ini. Ngomong-ngomong, siapa wanita cantik itu? Dimana
kau bertemu dengannya?” tanyanya kepadaku.


Ternyata dia adalah Eric. Mia
juga ada di dekatnya, tetapi aku tidak melihat Alex.


“Ti…Tidak, bukan seperti itu.
Aku hanya membantunya karena ia terlihat kesulitan. Itu
saja. A... Aku tidak membantunya karena aku menyukainya kok,” ujarku dengan
sedikit gugup.


“Heh, aku tidak pernah bertanya hal itu. Apa jangan-jangan kau…,” ujarnya sambil
sedikit tertawa.


“Hey, sudahlah! Bukankah kita
harus berkumpul di aula?! Ayo cepat jalan!” ujar Ami kepada kami berdua.


“Kenapa kau begitu
terburu-buru? Bukankah tadi kau yang bilang kalau kita tidak usah
terburu-buru?” ujar Eric kepada Ami.


Kami bertiga berjalan
bersama-sama menuju ke aula. Di sana, suasananya agak ramai dan sedikit
berisik.


“Kenapa tiba-tiba kita disuruh
untuk berkumpul di aula? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanyaku kepada Eric.


“Entahlah, aku juga belum tahu
apa-apa. Kita lihat saja apa
yang akan disampaikan nanti,” jawabnya.


Tak lama kemudian, Alex datang
dan menghampiri kami. Aku dan
dia saling bertatapan dengan tajam dan kemudian, terdengar suara terompet
berbunyi. Suara tersebut menandakan bahwa kami harus berbaris dengan rapi dan
memperhatikan podium. Guru Radd datang dan berjalan menuju ke podium.


“Beberapa saat yang lalu, aku
telah menerima informasi yang sangat penting dari para ksatria kerajaan.
Pasukan kerajaan Salidan telah terlihat dan saat ini sedang
berjalan menuju ke tempat ini dari arah utara dan barat. aku ingin kalian segera bersiap-siap dan berkumpul di pos masing-masing
sesuai dengan petunjuk dari komandan kalian,” ujarnya kepada kami semua.


Kami semua terkejut dan
kemudian guru Radd pergi meninggalkan podium. Ia kemudian berbicara dengan
jenderal Zieg.


“Beberapa ksatria kerajaan
sedang menuju ke tempat ini. Aku telah menempatkan ksatria kerajaan yang lebih
dulu tiba di tempat-tempat yang vital,” ujarnya kepada guru Radd.


“Bagus, kuharap pertempuran
ini tidak sesulit yang kita bayangkan. Aku tidak mengira kalau Salidan akan mengirimkan pasukannya ke tempat ini,” ujar guru Radd.


“Tapi… Penyerangan ini tidak
lazim. Berdasarkan informasi
dari pasukan patroli, pasukan Salidan
yang akan terlihat tidak sebanyak yang kita duga dan sepertinya mereka
tidak cukup kuat untuk menghancurkan Guild ini,” ujar jenderal Zieg.


“Atau... Mungkinkah mereka
memang tidak berniat untuk menghancurkan tempat ini?” tanya guru Radd.


Jenderal Zieg hanya terdiam
dan kemudian ia berjalan menuju ke gedung Central.


“Aku harap sesuatu yang buruk
tidak akan terjadi,” ujar jenderal Zieg.


Aku dan teman-teman yang
lainnya berjalan menuju ke Barrack. Di tengah jalan, kami bertemu dengan Bod. Ia sedang berbicara dengan teman-temannya
kemudian melihat kearahku dengan pandangan yang sinis.


“Hey, bukankah itu si anak
bodoh? Sepertinya kau ketakutan menghadapi pasukan dari kerajaan Salidan. Lebih baik kau berlindung saja di kamarmu dan berdoa agar kau tidak
diserang oleh mereka,” ujarnya kepadaku.


Alex kemudian mendekati Bod
dan menatap matanya.


“Hey gendut! Badanmu yang besar
itu sepertinya lebih menarik untuk dijadikan target oleh pasukan Salidan. Dagingmu sepertinya bisa membuat binatang peliharaan mereka merasa kenyang untuk beberapa hari,” ujarnya kepada Bod.


“Apa?! Beraninya kau! Ayahku
telah mengirimkan beberapa ksatria terbaiknya untuk membantuku berperang. Aku
akan membuatmu menyesal telah mengatakannya!” teriaknya kepada Alex.


Bod lalu pergi bersama
teman-temannya dan menjauhi kami. Alex lalu menyuruh kami untuk melanjutkan
perjalanan menuju ke Barrack.


“Alex… Tidak biasanya kau
menolong Rith seperti tadi,” ujar Eric.


“Kau jangan salah sangka. Aku
berbicara seperti itu tadi karena aku kesal melihat sifat dan cara bicaranya yang sombong itu. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk
menolong Rith,” ujarnya dengan sedikit kesal.


Sesampainya di Barrack, kami menyiapkan peralatan masing-masing. Mia
kemudian memberi tahu bahwa kami telah ditunggu di gerbang barat.
kami lalu menuju ke sana dan setibanya di tempat itu, aku sedikit heran karena
orang yang menunggu kami bukanlah komandan Sagas.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:04 am

“Ah, kalian pasti para anggota dari grupnya Sagas. Namaku Liz, aku
ditugaskan untuk menggantikannya sementara dalam pertempuran ini karena ia
mendapatkan tugas lain,” ujarnya kepada kami.


Kami berkenalan dengannya dan
menanyakan tentang rencana yang akan dijalankan dalam pertempuran nanti.
Komandan Liz menjelaskan bahwa kami hanya diperintahkan untuk berada dalam
posisi Defend (Berlindung). Jumlah musuh dan posisinya
tidak diketahui secara pasti sehingga prioritas utamanya adalah melindungi pintu
gerbang. Di tempat ini,
terdapat beberapa tim lain selain kami dan mereka telah menempati posisinya
masing-masing. Tidak lama kemudian, penjaga menara pengawas di gerbang barat
berteriak untuk memberitahukan kami semua bahwa pasukan Salidan telah terlihat tidak jauh dari tempat ini.


“Semuanya, jangan sampai
lengah! Mereka bisa menyerang kita secara tiba-tiba!” teriak komandan Liz
kepada kami.


Kami mengeluarkan senjata kami
dan bersiap di posisi masing-masing. Tiba-tiba, tanah
disekitar kami bergetar dan serpihan-serpihan tanah pun terangkat ke atas.
Serpihan-serpihan tanah tersebut mengaburkan pandangan kami.


“Ini… Sihir Tanah! Pertahankan posisi kalian! Musuh akan menyerang sebentar lagi!” perintah
komandan Liz kepada kami.


Kemudian, sebuah senjata melayang
kearah kami. Komandan Liz
menangkis senjata tersebut
dan mementalkannya ke samping.


“Senjata itu… Tidak salah
lagi. Senjata itu adalah Halberd. Semuanya! Posisi bertahan!” perintah komandan
Liz.


Halberd adalah senjata
berbentuk tombak yang digabungkan dengan kampak. Senjata tersebut bisa
digunakan untuk menusuk, membelah dan bisa juga digunakan dengan cara dilempar.
Senjata ini merupakan senjata
yang menjadi ciri khas prajurit dari kerajaan Salidan.


Kami segera memasang posisi
bertahan dan kemudian muncul beberapa orang dari balik pepohonan. Mereka
memiliki senjata yang sama dengan senjata yang dilemparkan tadi. 3 diantaranya
menyerang kelompok kami. 2 orang musuh yang berada di belakang melemparkan
senjatanya kearah kami dan yang satu lagi, terus melaju kearah kami. Alex dan
aku menangkis senjata yang dilemparkan tersebut tetapi, Mia dan Eric terkena
serangan secara beruntun dan serangan yang terakhir dapat ditangkis oleh
komandan. Musuh yang maju tersebut lalu mundur ke belakang.


“Eric! Mia! Kalian tidak
apa-apa?!” teriak komandan.


“Kami tidak apa-apa. Kami tadi
berhasil sedikit menghindar,” ujar Ami.


“Sial! Getaran dan debu ini membuatku sulit untuk melihat dan memastikan keberadaan musuh,” ujar Eric.


Musuh-musuh tersebut kembali
menyerang kami. Kali ini, mereka maju menyerang secara bersama-sama. Mereka
bergerak dari kiri, kanan dan depan. Komandan mencoba menyerang musuh di depan
tetapi musuh tersebut dapat menghindar dan melukai komandan. Alex dan Mia
menangkis dan menahan serangan musuh dari sebelah kanan secara bersama-sama dan
berhasil menghentikan pergerakannya. Aku menangkis serangan musuh dari sebelah
kiri dan diteruskan dengan serangan dari Eric. Serangan tersebut melukai musuh
tersebut dengan cukup telak dan ia lalu mundur ke arah belakangnya. Musuh di
arah depan mencoba menolong temannya di sebelah kanan yang tertahan oleh Alex
dan Mia tetapi, komandan menyerangnya dari belakang saat musuh tersebut berlari
disertai olehku yang menyerang dari sampingnya dan berhasil melukainya. Musuh
tersebut terjatuh kemudian,
Eric menyerang musuh yang tertahan tersebut. Musuh tersebur membaca mantera dan
tiba-tiba, tanah tempat kami
berpijak terangkat dan membuat Alex, Mia dan Eric terhempas ke belakang
mereka.


“Sial!
Dengan keadaan seperti ini, kita tidak bisa bertarung dengan baik. Mereka lebih pintar dari yang kuduga,” ujar komandan Liz.


Tim-tim yang lain sedang
bertarung dengan sengit. Tiba-tiba, muncul seorang musuh lain dari balik pepohonan dan berlari dengan kencang memasuki gerbang. Aku dengan
cepat mengejarnya. Musuh
tersebut membaca mantera kemudian menghujamkan senjatanya ke tanah lalu tanah
di depanku terangkat dan menciptakan dinding yang kokoh sehingga jalan di
depanku terhalang oleh tanah ini.


“Hah… hah… Sial! Dia berhasil menghentikanku,” ujarku dengan nafas yang terengah-engah.


Lama-kelamaan, suara langkah kakinya semakin menjauh dariku dan akhirnya aku
kehilangan jejaknya. Aku terus berjalan ke arah lain dan berharap
bisa menemukannya lagi. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari arah gedung Central.
Tampaknya ada yang sedang bertarung di tempat tersebut. Akupun langsung berlari
menuju ke tempat itu dan kembali mendengar suara-suara gaduh.


”Kau harus melangkahi mayatku
dulu bila ingin menemui Master Radd,” ujar seseorang di dalam gedung Central.


”Su... Suara itu, seperti
suara komandan Sagas!” ujarku.


Aku dengan cepat berlari dan
mendobrak pintu gedung Central. Sesampainya didalam, aku melihat komandan Sagas
dan beberapa prajurit Salidan sedang berhadap-hadapan. Mereka
berjumlah 4 orang dan sepertinya mereka sedang bersiap-siap untuk menyerang
komandan.


”Rith! Sedang apa kau disini!
Cepat pergi dari tempat ini! Mereka terlalu kuat bagimu!” teriaknya kepadaku.


”Tidak! Aku tidak akan
membiarkanmu terluka lagi! Aku akan membantumu melawan mereka komandan!” balasku
kepadanya.


”Huh, dasar keras kepala,” ujarnya
sambil sedikit tersenyum.


2 orang ditengah mulai
bergerak mendekati komandan dan 2 orang di samping bergerak mendekatiku. Aku
menghindari serangan pertama dan menangkis serangan yang kedua sedangkan
komandan menghindari kedua serangan yang ditujukan kepadanya dan berbalik
menyerang mereka. Sayangnya, serangan komandan berhasil dihindari dan temannya
menyerang komandan dari samping. Komandan menangkisnya dengan senjatanya
kemudian menendangnya lalu memukul musuh yang lain dengan
tangan kirinya. Ia lalu menoleh kearahku dan berlari untuk membantuku.


”Rith! Jangan sampai lengah,
mereka bukan prajurit biasa!” teriaknya kepadaku.


Kedua musuh didekatku
menyerangku terus menerus. Aku hanya bisa menangkis serangan mereka dan terus
mundur kebelakang. Aku semakin terdesak dan mulai kelelahan. Salah satu dari
musuh di depanku meloncat dan bergerak ke arahku, tetapi komandan Sagas segera menangkis serangan tersebut. Ia terjatuh
kemudian, dengan segera, aku menyerang musuh tersebut dan melukainya. Aku dan
komandan Sagas lalu menyerang satu orang yang tersisa secara bersama-sama dan
melukainya dengan cukup parah sehingga ia langsung terjatuh dan pingsan.


”Kita
harus segera ke tempat Master Radd. Ia tengah diincar oleh para ksatria Salidan,” ujar komandan kepadaku.


Kami lalu berlari menaiki
tangga menuju ke lantai teratas. Dalam perjalanan ke lantai teratas, aku mendengar suara pertempuran di
luar. Sepertinya telah
terjadi pertarungan yang sengit disana. Sesampainya
di lantai teratas, aku melihat guru Radd dan seorang pria yang tidak kukenal.
Pria tersebut tinggi dan sebagian besar tubuhnya tertutup oleh jubah. Ia
menggunakan penutup kepala.


”Hmm.... Jadi, bagaimana
dengan tawaranku tadi. Apakah
kau mau bekerja sama dengan kami? Kalau kau setuju, aku akan menarik mundur
semua pasukanku,” ujarnya kepada guru Radd.


”Aku tidak akan pernah
menerima tawaranmu itu. Lagipula, prajurit-prajuritku tidak selemah itu. Mereka
tidak akan kalah dari pasukanmu,” balas guru Radd.


”Kau membuat pilihan yang
salah. Sepertinya aku harus menggunakan cara yang lebih keras,” ujar pria
misterius tersebut.


Pria tersebut membaca sebuah
mantra dan tiba-tiba, muncul hawa yang sangat dashyat disekitarnya.


”Wahai makhluk penguasa bumi, datanglah dan pinjamkan aku kekuatanmu. Dengarkan dan penuhilah
permohonanku ini. GIGANTIS!!” ujarnya.


Sesaat kemudian, tanah berguncang dengan keras dan awan di langit berubah menjadi hitam.
Permukaan tanah retak dan
terkelupas akibat guncangan keras tersebut. Tiba-tiba, seekor makhluk besar
keluar dari permukaan tanah. Bentuknya terlihat seperti kura-kura dan
permukaan tubuhnya dipenuhi oleh tanah dan lumpur. Makhluk tersebut meraung dengan keras lalu ia
menghampiri tempat ini. Aku bisa melihatnya datang dari jendela dan tatapannya
sangat tajam dan mengerikan.


”Ma... Makhluk apa itu? Aku... tidak pernah merasa sangat ketakutan
seperti ini seumur hidupku,” ujar komandan Sagas dengan gemetar.


”Bukankah itu Gigantis? Makhluk legendaris yang
konon telah dikurung di kuil pegunungan Sahgra? Kenapa kau melepaskannya?” ujar
guru Radd.


Pria misterius tersebut
menatap guru Radd dan tersenyum.


”Para Sage yang mengurung dan
menyegelnya dahulu tidak pernah berpikir betapa bergunanya kekuatan makhluk itu. Dengan kekuatan yang dimilikinya, aku bisa menciptakan kerajaan yang terkuat dan terhebat dalam
sejarah negeri ini,” ujar
pria misterius tersebut kepada guru Radd.


”Kau benar-benar bodoh. Apa
kau tidak tahu betapa mengerikannya makhluk tersebut?!” balas guru Radd.


”Diamlah! Sekarang cepat beritahukan dimana letak Artifak yang kau simpan itu atau aku akan menghancurkan tempat ini!” perintahnya
kepada guru Radd.


”Jangan sentuh guru Radd,
dasar brengsek!!!” teriakku.


Aku segera berlari menuju pria
misterius tersebut dengan membawa pedangku dan menyerangnya dengan tusukan ke
arah dadanya. Ia dengan cepat mengelak dan menghempaskan tubuhku ke arah
dinding.


”Rith!!!” teriak guru Radd dan
komandan Sagas.


”Ah... Sudahlah, lebih baik tempat ini kuhancurkan saja. Setelah itu, aku akan mencari artifak itu di
reruntuhan tempat ini,” ujar
pria misterius tersebut.


Ia lalu meloncat ke arah
jendela dan naik ke punggung
Recorn. Recorn adalah makhluk yang mempunyai tubuh seperti
burung. Makhluk ini mempunyai dua pasang sayap, empat
buah kaki dan mempunyai ukuran tubuh yang besar. Kemudian, ia memerintahkan Gigantis tersebut untuk
menghancurkan tempat ini. Makhluk tersebut mundur, lalu meraung dan mengumpulkan energi
di punggungnya. Tanah
disekitar makhluk tersebut bergoncang dengan hebat dan menghancurkan semua yang
ada disekitarnya. Goncangan tersebut semakin meluas dan mulai mendekati tempat
ini.


”Ini
buruk. Sagas, segera perintahkan semua yang ada disini untuk pergi sejauh mungkin dari tempat ini! Perintahkan kepada para ksatria
kerajaan untuk membentuk Barrier!” perintahnya kepada komandan Sagas.


”Baik! Akan segera saya laksanakan Master”
ujar komandan Sagas.


Komandan lalu bergegas menuju pintu keluar dari
ruangan ini. Guru Radd lalu membantuku berdiri dan mengatakan kepadaku untuk
segera keluar dari tempat ini. Dia lalu memberiku sebuah bungkusan kecil.


”Tapi... Bagaimana denganmu guru?” tanyaku
kepadanya.


”Rith, kau harus keluar dari tempat ini.
Aku dan ksatria-ksatria kerajaan akan bertarung untuk melindungi tempat ini. Pergilah
ke Basement bawah tanah gedung ini,” ujarnya kepadaku.


Aku kemudian berlari menuruni tangga dan
di tengah perjalanan, aku mendengar suara terompet ditiupkan. Suara tersebut adalah tanda evakuasi. Aku terus berlari dan
akhirnya sampai di pintu basement bawah tanah. Aku membuka pintu tersebut dan
di dalamnya terdapat sebuah lingkaran sihir dan dikelilingi oleh 4 buah tugu
batu. Aku berjalan dengan perlahan ke lingkaran sihir tersebut dan tiba-tiba,
lingkaran tersebut bercahaya. Tugu-tugu batu di sekitarnya mengeluarkan tulisan-tulisan
mantra yang bercahaya dan tubuhku kemudian dipenuhi oleh cahaya-cahaya
tersebut.


”A... Apa ini? Aku merasakan sesuatu yang
aneh di tubuhku,” ujarku dengan sedikit kebingungan.


Tiba-tiba, terdengar bunyi dentuman keras. Ruangan ini bergetar dan beberapa batu berjatuhan di sekitarku. Sepertinya serangan pertama dari makhluk
tersebut berhasil ditahan dengan Barrier. Lama-kelamaan, Tubuhku terasa semakin aneh dan aku merasa seperti
melayang. Kemudian, terdengar suara dentuman yang lebih keras. Aku berteriak
dan tiba-tiba, sekelilingku berubah
menjadi putih lalu akupun tak sadarkan diri.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:06 am

Chapter 2 : An Isolated Village





Aku membuka mataku dan tiba-tiba, aku
sudah berada di atas sebuah kasur. Aku terbangun oleh sinar matahari yang menembus dari jendela membuat mataku silau. Suara kicauan burung terdengar dari luar. Sepertinya, hari sudah pagi dan tubuhku yang terluka sudah diobati dan
dibalut dengan perban.


”Di... Dimana ini? Apa yang telah terjadi padaku?” tanyaku kepada
diriku sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang
terbuka dan suara langkah kaki. Suara langkah kaki tersebut semakin
mendekatiku.


”Kau sudah sadar rupanya anak muda. Kau
terluka cukup parah kemarin dan kau harus banyak beristirahat untuk memulihkan
lukamu,” ujar seseorang.


Aku menatapnya dan ternyata dia adalah lelaki tua yang kutemui kemarin malam. Aku mencoba bangun dari tempat tidur, tetapi badanku mendadak terasa sakit. lelaki tua tersebut dengan cepat memegangku dan menyuruhku untuk
kembali tidur.


”Lukamu bisa bertambah parah,
beristirahatlah dan jangan memaksakan dirimu. Aku akan membuatkan obat untuk mengurangi rasa sakitmu,” ujarnya kepadaku.


”A... Apa yang terjadi saat aku pingsan
kemarin malam? Bagaimana dengan warga desa yang lain?” tanyaku kepadanya.


”Banyak warga yang terluka, tapi untungnya setelah kau mengalahkan serigala
besar itu, serigala-serigala yang lain langsung berlarian pergi dari desa ini. Kau tidak usah terlalu mengkhawatirkan hal itu. Ngomong-ngomong, kita belum sempat berkenalan
kemarin, namaku Xenoc,” ujarnya
kepadaku.


”Namaku Rith. Sepertinya aku berhutang
budi padamu Xenoc, ingatkan aku untuk membalasnya,” ujarku.


Ia tersenyum kepadaku dan berjalan menuju
ke pintu kamar. Aku merebahkan diri di tempat tidur dan membayangkan peristiwa
yang terjadi kemarin malam. Aku mengangkat tanganku dan menatap kearah telapak
tanganku kemudian aku menghela nafas dan memejamkan mataku.


Diluar, Xenoc berjalan menuju ke rumah
kepala desa. Ia mengetuk pintu dan kemudian seorang wanita muncul dan membukakan pintu lalu mempersilahkannya untuk masuk.


”Selamat pagi Xenoc. Sepertinya kau sedikit terlambat untuk menemuiku,”
ujar seorang pria tua sambil mendekati Xenoc.


”Selamat pagi kepala desa, maaf aku
sedikit terlambat. Luka pemuda tersebut cukup parah dan aku harus meramu obat
khusus untuk menyembuhkannya,” ujar Xenoc.


Kepala desa mempersilahkan Xenoc untuk
duduk dan kemudian istrinya datang dan menyuguhkan minuman.


”Kepala desa, bisakah kau mempertimbangkan
keputusanmu itu? Bukankah
pemuda itu yang telah menyelamatkan warga-warga desa kita kemarin?” tanya Xenoc.


”Aku tahu itu, tapi Xenoc, saat ini kita sedang
menghadapi ancaman yang serius. Aku tidak bisa mengambil resiko dengan
membahayakan keselamatan seluruh penduduk desa,” ujar kepala desa.


”Tapi...,” ujar Xenoc.


Tiba-tiba, muncul seorang gadis dari pintu
depan. Ia mempunyai rambut panjang yang dikepang dan berwarna merah tua. Gadis tersebut membawa keranjang berisi
buah-buahan dengan tangan kanannya.


”Selamat pagi ayah! Aku membawakan
buah-buahan dari kebun kita yang baru saja kupetik,” ujarnya.


”Ah, putriku. Kau kelihatan ceria sekali
hari ini,” ujar kepala desa sambil tersenyum.


”Perkebunan kita sepertinya tidak rusak parah akibat serangan kemarin malam.
Aku masih bisa memetik buah-buahan yang ada dan mengumpulkannya di keranjang
ini,” ujarnya dengan penuh
semangat.


“Hahahaha.... Syukurlah kalau begitu.
Kalau begitu, bolehkah ayah mencicipi buah-buahan itu?” tanyanya pada Karen.


“Nanti dulu ayah, aku ingin
membagi-bagikannya kepada warga desa lain yang sedang terluka. Aku harap
buah-buahan ini dapat membantu mereka agar cepat sembuh. Oh, paman Xenoc. Maaf,
aku tidak tahu kalau kau ada disini,” ujarnya.


“Tidak apa-apa Karen. Baiklah kepala desa, aku pamit dulu karena
masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan,” ujar Xenoc.


Ia pun bergegas pergi dan berjalan menuju ke sebuah rumah kecil lalu membuka pintu rumah
tersebut. Di dalamnya, terdapat
seseorang yang sedang mengobati warga-warga desa yang terluka. Ia beristirahat sejenak dan melihat ke
arah Xenoc.


”Oh, hai Xenoc! Maaf, aku tidak melihat
kau masuk kemari,” ujarnya.


”Sepertinya kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu itu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah
mengganggumu,” ujar Xenoc.


”Sudahlah, hal itu tidak usah terlalu
dipikirkan. Kebetulan, aku
memang berniat untuk beristirahat. Aku sudah berjam-jam merawat orang-orang
ini. Beberapa dari mereka masih pingsan, tapi untungnya mereka semua selamat
dan berhasil melewati masa kritisnya. Oh, aku hampir lupa! Ini dia bahan-bahan
yang kau minta. Tadinya aku ingin mengantarnya langsung ke rumahmu, tapi
sepertinya aku tidak sempat,”
ujarnya.


“Terima kasih, nampaknya aku telah banyak
merepotkanmu. Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu. Sama sepertimu, aku masih
punya pekerjaan yang harus kuselesaikan,” ujar Xenoc.


Aku kembali terbangun dari tidurku dan
melihat-lihat sekitar. Aku melihat pakaianku di atas meja kecil kemudian, aku
turun dari tempat tidur dan berjalan ke meja kecil tersebut dan mengenakan
pakaianku itu. Setelah selesai berpakaian, aku mengambil senjata dan perbekalanku.


”Nampaknya aku sudah cukup beristirahat. Aku tidak boleh bersantai-santai
seperti ini. Masih ada hal yang harus kukerjakan,” ujarku pada diri sendiri.


Kemudian aku berjalan menuju pintu dan
keluar dari rumah tersebut. Nampaknya
hari sudah siang dan aku melihat beberapa penduduk desa diluar sedang
mengerjakan aktivitasnya masing-masing. Aku berjalan perlahan sambil melihat-lihat
ke sekelilingku. Beberapa penduduk
desa menatapku sambil berbisik kepada temannya. Aku tidak menghiraukan sikap mereka itu dan terus
berjalan menyusuri desa. Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang gadis. Ia berjalan sambil membawa sebuah keranjang berisi
buah-buahan yang masih segar.
Ia lalu berhenti di depanku dan menyapaku sehingga aku segera menghentikan
langkahku.


”Hai! Kau pasti pemuda yang terluka
kemarin malam. Namaku Karen, aku putri dari kepala desa. Ngomong-ngomong, kenapa kau berada di luar? Lukamu sepertinya belum
sembuh betul. Kau jangan terlalu memaksakan dirimu seperti ini. Makanlah buah-buahan
ini agar kau merasa baikan,”
ujarnya sambil menawarkan keranjang berisi buah-buahan.


”Maaf, tapi aku sedang terburu-buru saat ini,” tolakku.


Aku lalu berjalan menjauhi gadis tersebut,
tetapi tiba-tiba muncul rasa sakit yang sangat hebat dan aku pun terjatuh tak
sadarkan diri.


Di tempat lain, Xenoc sedang sibuk
mengerjakan sesuatu. Raut mukanya menunjukkan bahwa ia sedang kesulitan.


“Hmm.... Tampaknya aku butuh waktu yang
lebih lama lagi. Sepertinya aku sudah semakin tua untuk hal ini,” ujar Xenoc.


Tiba-tiba seorang anak kecil masuk dari
pintu dan menghampiri Xenoc.


“Kakek, ini bahan-bahan yang kau minta.
Oh, sepertinya kakek sedang kesulitan. Apakah kakek membutuhkan bantuanku?”
tanya anak tersebut.


“Oh, Lilith. Terima kasih atas perhatianmu,
tapi kau sudah sangat membantuku. Kakek hanya butuh sedikit waktu lagi untuk
menyelesaikannya jadi kau tidak usah khawatir. Beristirahatlah sekarang, kakek
yakin kau sangat kelelahan setelah mengumpulkan bahan-bahan ini,” ujar Xenoc.


“Tapi, kakek sedang membuat apa? Aku tidak
pernah melihat kakek membuatnya,” tanya Lilith.


“Hahahaha... Ini urusan orang dewasa, jadi
kamu belum boleh tahu,” ujar Xenoc.


“Huh, curang! Aku benci kakek!” teriak
Lilith dengan nada sedikit kesal sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Aku membuka mataku dan melihat sekeliling.
Sepertinya aku telah berada di sebuah kamar, tetapi kamar ini bukan kamar yang
terletak di rumah Xenoc.


“Kau sudah sadar rupanya. Syukurlah, aku
sangat terkejut saat kau tiba-tiba pingsan dan terjatuh di depanku. Aku berteriak
minta tolong pada warga di sekitar untuk membawamu ke rumahku,” ujarnya sambil
tersenyum lega.


Aku pun beranjak bangun dari tempat tidur
tersebut dan melihat-lihat sekeliling.


“Jadi ini rumahmu? Sepertinya aku telah
merepotkanmu. Aku minta maaf,” ujarku kepada gadis itu.


“Ah, tidak apa-apa. Aku senang bisa
menolong orang lain. Ngomong-ngomong, kenapa kau begitu terburu-buru seperti
itu? Lukamu belum sembuh dan kau hanya akan membunuh dirimu sendiri bila kau
pergi dengan keadaan seperti itu,” ujarnya kepadaku.


“Aku masih mempunyai hal penting yang
harus aku selesaikan. Kau tidak usah terlalu menghawatirkan diriku,” jawabku
kepadanya.


“Tapi bila kau tetap bersikeras seperti
itu, kau akan terbunuh,” ujarnya kepadaku.


Aku memalingkan mukaku darinya dan kami
berdua hanya terdiam. Tiba-tiba, ia berdiri dan berjalan menuju pintu.


“Aku masih ada pekerjaan lain.
Beristirahatlah dulu di sini dan jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku akan
memberitahukan Xenoc bahwa kau ada di rumahku,” ujarnya kepadaku dengan kepala
yang tertunduk.


Gadis itu lalu menuju ke luar kamar dan
menutup pintunya. Aku memegang dadaku yang masih terasa sedikit sakit dan
menyenderkan badanku.


“Sial, sepertinya rasa sakitnya masih
terasa sampai saat ini. Tapi, aku tidak boleh berlama-lama seperti ini,” ujarku
dengan sedikit kesal.


Karen berjalan menuruni tangga kemudian di
ruang tamu, ia berpapasan dengan kepala desa dan beberapa orang yang
mendampinginya.


“Ayah, hari ini kau jarang kelihatan di
rumah. Apa ada sesuatu yang penting sehingga kau jadi begitu sibuk seperti
ini?” tanya Karen kepada kepala desa.


“Karen, aku dengar pemuda itu ada di rumah
kita. Apa kau yang telah membawanya ke sini?” tanya kepala desa.


“I... Iya, ayah. Tadi dia mendadak
terjatuh dan pingsan, jadi aku membawanya kesini untuk beristirahat. Sepertinya
lukanya masih belum pulih betul. Aku baru akan memberitahukan Xenoc bahwa
pemuda itu ada di sini,” jawab Karen.


“Hmm... Biar aku saja yang memberitahukan
Xenoc. Kau beristirahat saja di kamarmu, ayah khawatir kalau kau terlalu lelah
setelah membantu merawat warga-warga desa yang terluka,” ujar kepala desa.


Karen kemudian mengangguk dan berjalan
menuju ke kamarnya yang terletak di lantai satu.


“Kepala desa, apakah anda yakin dengan hal
ini?” ujar salah seorang warga desa.


“Kita tidak mempunyai pilihan lain dan sebaiknya
kita menunggu sampai malam tiba,” ujar kepala desa.


Aku berbaring di tempat tidur sambil
memandang ke arah langit-langit. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Aku
terkejut dan bergegas menuju ke pintu untuk membukakannya.


“Ada yang mengetuk pintu di tengah malam
seperti ini?,” tanyaku pada diri sendiri.


Aku kemudian membukakan pintu dan aku pun
terkejut karena orang yang mengetuk pintuku adalah Karen. Raut mukanya terlihat
sedih bercampur cemas.


“Ayahku memanggilmu. Kau disuruh untuk
menemuinya di lantai satu,” perintahnya kepadaku.


Dengan sedikit heran, aku mengikuti
perintahnya dan menemui kepala desa di lantai satu. Nampaknya beberapa warga
desa sedang berbincang-bincang dengan kepala desa. Raut muka mereka tampak
sangat serius.


“Ah, tuan Rith. Duduklah, aku dan yang
lainnya ingin membicarakan sesuatu denganmu,” ujarnya kepadaku.


Aku lalu duduk berhadapan dengan kepala
desa dan kemudian istrinya menyuguhkan minuman kepadaku.


“Kami minta maaf karena telah mengganggu
istirahatmu, tetapi kami mempunyai hal penting yang ingin kami sampaikan
kepadamu. Maukah kau mendengarkan ceritaku ini?” tanyanya kepadaku sambil
memohon.


Aku lalu menyetujui untuk mendengarkan
ceritanya. Kemudian, raut muka kepala desa berubah menjadi serius dan ia pun
mulai bercerita.

“Kira-kira satu minggu yang lalu, desa ini
merupakan desa yang makmur dan tentram. Penduduk desa ini jauh lebih banyak
dari sekarang dan banyak pedagang yang datang ke desa ini dari daerah lain
untuk membeli hasil panen kami. Semuanya berjalan normal dan keadaannya
benar-benar aman sampai suatu hari terjadi keanehan di desa kami ini. Para
pedagang yang biasanya datang ke desa kami sama sekali tidak nampak dan muncul.
Kami bertanya-tanya dan akupun mengumpulkan semua warga desa di lapangan yang
tak jauh dari sini untuk membicarakan masalah ini. Setelah pembicaraan dan
perdebatan yang cukup panjang, akhirnya kami semua sepakat untuk membentuk
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:07 am

sebuah kelompok yang terdiri dari para warga
desa yang masih muda dan mereka akan bertugas untuk menyusuri jalan menuju ke
luar daerah ini dan mencari tahu apa penyebab dari masalah ini,” cerita kepala
desa dengan panjang lebar.


Ia lalu menghela nafasnya dan menyandarkan
dirinya ke tembok. Ia terlihat begitu sedih dan tertekan. Aku bertanya
kepadanya mengenai apa yang terjadi setelah itu. ia lalu melanjutkan ceritanya
kepadaku.


“Keesokan harinya, kelompok yang telah
dibentuk berkumpul di pintu masuk desa dan kami semua membawa perbekalan
dan senjata untuk berjaga-jaga. Kami
lalu segera berangkat dan mulai berjalan menyusuri hutan. Kami berjalan melewat
jalan setapak menuju ke arah barat karena jalan inilah yang biasa dipakai para
pedagang saat akan mengunjungi desa kami. Saat itu suasana hutan terasa begitu
aneh dan tidak biasa. Hutan begitu sunyi dan kami sama sekali tidak melihat
adanya binatang yang berkeliaran. Kami meneruskan perjalanan dengan perasaan
cemas. Kemudian, hari pun mulai gelap dan kami memutuskan untuk beristirahat
karena sudah seharian berjalan. Beberapa warga desa lalu menyiapkan tempat
untuk istirahat dan kami pun berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya.
Suasana hutan tampak lebih aneh dan terasa mencekam saat malam tiba. Saat itu,
bulan sedang purnama dan kami sama sekali tidak mendengar adanya suara binatang-binatang
yang biasanya terdengar pada malam hari. Ash, anak tertuaku yang ikut di dalam
rombongan, menyarankan agar kami menghentikan perjalanan kami dan segera
kembali ke desa. Ia merasa ada yang tidak beres dengan hutan ini dan akan
berbahaya bila kami melanjutkan perjalanan,” cerita kepala desa.


Kepala desa kembali terdiam beberapa saat.
Ia kembali melanjutkan ceritanya dengan kepala yang tertunduk.


“Aku menolak usulan darinya dan memutuskan
untuk terus melanjutkan perjalanan karena kami belum menemukan petunjuk apapun.
Kami lalu bergegas untuk beristirahat dan tiba-tiba, terdengar suara teriakan
minta tolong dari kejauhan. Aku memerintahkan kepada sebagian orang untuk
menuju ke sumber suara itu dan sebagian lainnya menjaga barang-barang dan perbekalan
kami. Ash memutuskan untuk tetap berada disini dan ia tampak makin gelisah. Aku
menunggu kabar dari orang-orang yang telah kukirim tetapi setelah menunggu
dengan cukup lama, belum ada satupun dari mereka yang kembali. Ash lalu
memutuskan untuk menyusul mereka sambil membawa beberapa orang bersamanya. Aku
lalu menyuruhnya untuk berhati-hati dan segera kembali bila melihat sesuatu
yang aneh. Beberapa puluh menit telah berlalu dan tidak ada kabar sama sekali
dari Ash. Aku memerintahkan kepada yang lainnya untuk mengambil senjata mereka
dan berjaga-jaga. Nampaknya, aku mulai merasakan kekhawatiran yang dirasakan
oleh Ash. Aku terus berdoa agar tidak ada hal buruk yang menimpa mereka. Beberapa
saat kemudian, kami mendengar suara dari kejauhan. Jantungku mulai berdegup
dengan kencang dan yang lainnya bersiap-siap untuk menyerang. Tiba-tiba, Ash
muncul dengan warga desa lainnya. Mereka dalam keadaan terluka parah dan
beberapa dari mereka terpaksa dipapah. Ash mengatakan padaku bahwa suara
teriakan tersebut merupakan suara dari seseorang yang diserang oleh binatang
buas,” cerita kepala desa.


“Binatang buas? Hmm... Kalau dugaanku
benar, binatang buas yang menyerang rombonganmu adalah serigala-serigala itu,”
ujarku kepada kepala desa.


“Benar, tapi ada hal lain yang lebih
buruk. Ash mengatakan bahwa orang yang diserang tersebut merupakan seorang
bandit dan sepertinya bandit itu sedang tersesat dan terpisah dari temannya,”
ujar kepala desa.


“Hmm... Jadi itu sebabnya mereka
memata-matai dan menyerang desa ini. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?”
tanyaku.


“Hanya ada beberapa warga desa yang berhasil
diselamatkan. Ash memerintahkan kami untuk segera kembali ke desa. Ia
mengatakan bahwa tempat ini berbahaya karena binatang buas yang dilihatnya
masih berkeliaran dan ia takut kalau teman-teman dari bandit tadi berada di
sekitar sini. Kami kemudian bergegas untuk kembali ke desa. Dari kejauhan,
terdengar suara langkah kaki serigala yang sedang berlarian menuju ke arah
kami. Suara tersebut semakin lama semakin terdengar jelas. Kami berusaha
berlari secepat mungkin, tetapi karena banyak warga desa yang terluka,
pergerakan kami menjadi lambat dan hanya dalam hitungan menit, kami akan
terkejar oleh binatang-binatang buas itu. Ash lalu mengambil senjatanya dan
berbalik arah. Ia mengatakan kalau ia akan menahan pergerakan binatang-binatang
buas itu dan memerintahkan kami untuk tidak mengkhawatirkannya. Aku melarangnya
dan menyuruhnya untuk tetap berlari bersama kami, tetapi ia tetap bersikeras
dan memarahiku. Ia mengatakan bahwa keselamatan warga desa lebih utama
dibandingkan dengan dirinya. Lalu... Kami sama sekali tidak mendengar kabar
apapun mengenai Ash,” cerita kepala desa.


Kepala desa lalu menghentikan ceritanya.
Aku mendengar suara tangisan dari sebelahku. Saat aku menoleh, ternyata yang
menangis adalah Karen. Ia tampak begitu sedih dan suasana menjadi semakin
muram. Kemudian, salah seorang warga desa melanjutkan cerita kepala desa.


“Sejak itulah desa kami menjadi terisolasi
dari dunia luar. Binatang-binatang buas tersebut menyerang siapa saja yang
memasuki areal hutan di sekitar desa ini. Karena itu, Sampai saat ini tidak ada
satu pun orang yang berkunjung ke desa ini dan kami jadi kehilangan pendapatan
dan banyak pemuda-pemuda kami yang terbunuh. Desa kami sepertinya hanya tinggal
menunggu kehancurannya saja,” ujarnya sambil bersedih.


Aku lalu terdiam. Setelah mendengar cerita
ini, aku jadi mengerti situasi di desa ini dan perasaan aneh yang kurasakan
sejak memasuki desa ini.


“Pantas saja Xenoc begitu terkejut saat
melihatku. Ia mengatakan bahwa sudah lama tidak ada orang yang berkunjung ke
desa ini,” ujarku.


“Ya, kaulah satu-satunya orang yang
selamat dan berhasil memasuki desa ini dan setelah melihat kejadian semalam,
aku yakin kalau kau cukup kuat untuk membantu kami mengalahkan
binatang-binatang buas itu,” ujar kepala desa kepadaku sambil memohon.


Mendengar hal itu, aku hanya bisa terdiam.
Aku tertunduk sambil memegang badanku yang masih terasa sakit.


“Tapi ayah, walaupun ia berhasil
mengalahkan binatang-binatang buas itu kemarin malam, lukanya masih cukup parah
dan bila menghadapinya lagi, dia tidak akan bisa menang dan bisa terbunuh,”
ujar Karen kepada kepala desa.


“Aku
mengerti, tapi desa ini sangat membutuhkan pertolongannya. Semakin lama,
binatang-binatang buas itu semakin agresif dan bahkan kemarin,
binatang-binatang itu memasuki desa kita dan melukai banyak orang. Lagipula, yang
tersisa di desa ini hanyalah orang tua, wanita dan anak-anak. kita tidak
mempunyai cukup kekuatan untuk melawan binatang-binatang buas itu,” jawab
kepala desa.


“A... Aku... Aku...,” ucapku
dengan ragu-ragu.


Karen memperhatikanku dengan
perasaan cemas. Aku kemudian berdiri dan melihat ke arah kepala desa.


“Aku akan membantu kalian
membunuh binatang-binatang buas itu,” ujarku dengan lantang.


Kepala desa dan warga desa
lainnya tersenyum lega. Mereka tampak senang dengan keputusanku tadi. Tetapi,
Karen kelihatan sangat cemas dan ia pun memandang ke arahku.


“Apa kau yakin dengan ini? Lukamu
masih parah dan untuk berjalan saja kau sudah kesulitan. Kau sama sekali tidak
punya kesempatan untuk menang,” ujarnya kepadaku.


“Sudahlah Karen, aku tidak
akan menarik kata-kata yang telah kuucapkan. Lagipula, aku tidak akan mati
semudah itu karena aku masih mempunyai urusan yang harus kuselesaikan,” jawabku
kepadanya.


Aku lalu meminta kepala desa
untuk memberikan senjata dan perlengkapanku. Ia lalu memerintahkan kepada salah
seorang warga desa untuk mengambilnya dan langsung memberikannya kepadaku.
Kemudian, kepala desa menyuruhku untuk ikut berkumpul di lapangan yang terletak
di tengah desa. Aku berjalan bersama dengannya dan warga desa lainnya.
Setibanya di lapangan, semua warga desa berkumpul mengelilingiku dan kepala
desa.


“Perhatian kepada seluruh
warga desa! Aku memerintahkan kepada para pria untuk tetaplah berada di sini
karena malam ini, kita akan berjuang untuk membebaskan desa kita dari
makhluk-makhluk buas yang telah menyerang kita sejak satu minggu yang lalu. Dan
kepada para wanita dan anak-anak, aku memerintahkan kalian untuk tetap berada
dirumah masing-masing dan mengunci pintu dan menutup jendela. Makhluk-makhluk
buas itu bisa masuk dan menyerang desa kita kapan saja,” perintah kepala desa.


Kami lalu berjalan
bersama-sama menuju ke gerbang desa. Kepala desa memerintahkan kami untuk
berhati-hati dan tidak bertindak gegabah. Kemudian, kami berjalan perlahan
menuju hutan. Jalan yang kami lewat merupakan rute yang biasa dilewati bila
berpergian menuju ke luar kota. Aku berjalan di barisan depan sambil
menggenggam senjataku dengan erat. Suasana hutan terasa begitu sunyi dan
mencekam. Aku sama sekali tidak mendengar suara-suara binatang yang tinggal di
hutan.


“Suasananya... Sepertinya ada
sesuatu yang terjadi setelah aku melawan serigala-serigala kemarin dan hal itu
mempengaruhi hutan ini. Aku hampir tidak mengenali jalan yang kulewati
kemarin,” ujarku dengan perasaan khawatir.


“Aku hanya berharap kalau
keadaan tidak menjadi lebih buruk lagi. Walaupun jumlah kita banyak, kekuatan
kita masih belum cukup untuk menghadapi binatang-binatang buas itu,” ujar
Xenoc.


“Kau benar. Sebagian besar
dari warga desa yang ikut dengan kita adalah orang tua. Kita tidak bisa terlalu
mengandalakn mereka


Aku menoleh ke belakang dan
sepertinya warga desa lainnya kelihatan begitu ketakutan. Hal itu terlihat
jelas dari raut wajah mereka dan cara mereka berjalan. Kami semua berjalan
semakin jauh menuju ke dalam hutan. Suasana semakin mencekam dan beberapa orang
mulai mengeluh dan menyarankan untuk kembali. Kepala desa dengan tegas menolak
saran tersebut.


“Kalau kita kembali, maka kita
tidak akan bisa berbuat apa-apa. Semuanya maju dan jangan sampai ada yang
terpisah. Perhatikan sekeliling kalian, kita bisa saja diserang secara
tiba-tiba,” perintah kepala desa.


Kami melanjutkan perjalanan dan belum ada
satupun serigala yang kami lihat. Tiba-tiba, seekor serigala melompat ke arah
kami dan menerkam salah seorang warga desa yang berada di belakang. Kami semua
terkejut dan warga desa lainnya berlarian menuju arah yang berbeda-beda. Aku
segera menyerang serigala itu dan berhasil melukainya sedikit. Serigala itu
kabur sambil membawa salah seorang warga desa menuju ke semak-semak dan
akhirnya menghilang.


“Jangan ada yang berpencar!
Semuanya bentuk formasi seperti tadi! Kita harus tetap waspada agar tidak jatuh
korban lagi!” perintahku kepada yang lain.


Kepala desa memerintahkan kami
untuk terus maju. Aku berjalan sambil mengawasi sekelilingku dan beberapa saat
kemudian, aku melihat beberapa serigala yang berlarian tak jah dari tempatku
berdiri. Aku mendekati tempat tersebut dan menemukan sebuah kereta kuda yang
hancur.


“Sepertinya kereta ini baru
saja hancur karena diserang oleh serigala-serigala itu. Nampaknya
serigala-serigala itu sedang membawa mangsanya untuk disantap,” ujarku.


“Bagaimana kau tahu hal itu? Mungkin
serigala-serigala itu hanya mencari makanan dari sisa-sisa kereta ini,” tanya
Xenoc.


“Lihatlah dengan lebih jeli.
Ada jejak darah tak jauh dari sini dan sepertinya darah tersebut masih baru dan
belum mengering,” jawabku kepada Xenoc.


Aku memerintahkan yang lain
untuk berjalan mengikuti jejak darah yang ditinggalkan oleh serigala-serigala
tadi. Semakin lama, bau darahnya semakin tercium dan sepertinya tidak hanya
satu orang yang menjadi korban. Kami terus berjalan sampai akhirnya kepala desa
memerintahkan kami untuk berhenti.


“Kita harus mempersiapkan diri
terlebih dahulu. Tampaknya di balik semak-semak itu ada banyak serigala yang
menanti kita,” perintah kepala desa.


“Tampaknya dulu tempat itu
digunakan sebagai persembunyian bandit-bandit yang kemarin menyerang desa.
Rupanya mereka telah memilih tempat yang salah untuk bersembunyi,” ujarku.


Kami semua beristirahat
sejenak sambil mempersiapkan barang-barang yang kami bawa. Xenoc lalu
menghampiriku dan memberikan sebuah botol berwarna hijau.


“Rith, saat menyerang nanti,
lemparkanlah botol ini ke tengah kerumunan serigala-serigala tersebut. Botol
ini akan mengeluarkan asap yang tebal sehingga serigala-serigala itu tidak akan
bisa menyerang kita secara bergerombol. Hal ini akan menguntungkan kita dalam
pertarungan,” ujarnya kepadaku.


Ia lalu mengambil satu lagi
botol bening yang berisi cairan berwarna merah.


“Minumlah. Cairan ini dapat
memperkuat dan menghilangkan rasa sakit di tubuhmu untuk sementara,” perintah
Xenoc sambil menyodorkan botol itu kepadaku.


Setelah semua dipersiapkan,
kami lalu berjalan mendekati serigala-serigala tersebut. Aku melihat ada
sekitar enam serigala di sana. Serigala-serigala itu sedang menyantap korban-korbannya
dan salah satunya merupakan warga desa yang diserang tadi.


“Kalian semua tunggu di sini.
Aku akan mengawasi sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada binatang buas
lain selain serigala-serigala itu,” perintahku kepada warga desa yang lain.

Aku berjalan perlahan mendekati serigala-serigala itu dan mengintip dari balik
semak-semak. Aku memperhatikan sekeliling dan tampaknya tidak ada binatang buas
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:07 am

lain di sekitar sini.
Tiba-tiba, aku menginjak sebuah ranting pohon dan suara patahan ranting
tersebut mengejutkan serigala-serigala yang sedang makan itu. Aku menghentikan
langkahku dan menunduk agar serigala-serigala itu tidak melihatku. Warga desa
lainnya bersiap-siap dengan senjata di tangan mereka untuk menghadapi
kemungkinan terburuk apabila kami ketahuan. Serigala-serigala itu melihat ke
sekeliling mereka dengan waspada. Aku mengeluarkan botol yang diberikan oleh
Xenoc dan menggenggam senjataku dengan erat. Setelah beberapa saat,
serigala-serigala itu berhenti mengawasi sekelilingnya dan kembali menyantap
mangsanya.


“Syukurlah, situasinya akan
menjadi sangat buruk bila serigala-serigala itu mengetahui kehadiran kami,”
ujarku sambil bernafas lega.


Aku lalu memberikan aba-aba
untuk berpencar dan bersiap-siap menyerang. Tiba-tiba, seorang warga desa
tersandung sebuah batu dan terjatuh ke semak-semak. Serigala-serigala itu
langsung terkejut dan menatap ke arah warga desa yang terjatuh dengan tajam.
Kemudian, serigala-serigala itu langsung menyadari kehadiran kami dan melolong
dengan kencang. Salah satu serigala maju dan menyerang warga desa yang terjatuh
diikuti dengan serigala lainnya yang menyerang warga desa lainnya. Aku langsung
berlari dan melemparkan botol ke arah serigala-serigala itu. Asap muncul dan
menyebar dari botol yang kulempar tadi. Serigala-serigala itu tampaknya
terkejut dan berhenti sejenak. Warga desa yang masih selamat berlarian untuk
menghindari serangan serigala-serigala itu.


“Gawat, Keadaannya menjadi
tidak terkendali. Aku harus bertindak cepat,” ujarku.


Serigala-serigala itu kemudian
mulai menghiraukan asap yang muncul dan kembali menyerang warga-warga desa. Beberapa
warga desa telah diterkam oleh serigala-serigala itu dan ada 3 serigala yang
masih mengejar warga desa lainnya. Beberapa warga desa mencoba untuk menyerang
dan melukai salah satu serigala itu. Aku berlari menuju ke serigala di sebelah
kananku dan menyerangnya. Serigala itu dengan cepat melompat ke sampingku
sebelum aku sempat mengenai tubuhnya. Aku berbalik dan dengan cepat serigala
itu menyerang lenganku. Untungnya, aku menahan seranganku dengan senjataku
sehingga lukaku tidak terlalu parah. Aku mendorong serigala itu dan menghempaskannya
ke pohon lalu aku berlari ke arahnya dan menusukkan pedangku ke punggungnya.


“Hah... Hah... Satu sudah
beres. Masih ada sisa lima ekor lagi,” ujarku dengan terengah-engah.


Xenoc berlari menjauhi
serigala yang mengejarnya. Ia dengan cepat berbelok dan bersembunyi di belakang
batang pohon. Ia lalu mengendap-endap menuju ke semak-semak kemudian ia mengeluarkan
pisau dan beberapa buah botol dari tasnya. Serigala yang tadi mengejarnya berhenti
karena kehilangan jejak Xenoc dan melihat sekelilingnya.


“Terlalu jauh. Aku harus
memancingnya agar lebih dekat lagi denganku,” ujar Xenoc.


Ia lalu melemparkan botol
berwarna kuning ke pohon di seberangnya. Botol tersebut pecah dan mendadak,
serigala itu berjalan mendekati pohon yang dilempari botol tadi. Sepertinya serigala
itu tertarik dengan aroma yang dikeluarkan oleh botol tadi. Xenoc menunggu
sampai serigala itu semakin dekat, lalu ia melemparkan botol berwarna merah ke
arah serigala itu kemudian terjadi ledakan yang membuat serigala itu terhempas
dan tewas.


Kepala desa memerintahkan
beberapa orang untuk berkumpul agar bisa menyerang serigala-serigala yang
tersisa beramai-ramai. Beberapa warga desa telah berhasil membunuh dua ekor
serigala dan melukai satu ekor serigala. Tiba-tiba, seekor serigala berlari
menuju ke arah kepala desa. Aku langsung mencabut senjataku dari tubuh serigala
yang tadi kuserang dan berlari ke arah kepala desa. Aku melemparkan pedangku
dan lemparanku tadi mengenai tubuh serigala itu dan membuatnya terjatuh.


“Kepala desa, cepat menjauh
dari sini! Biar aku yang mengurus serigala ini!” perintahku kepadanya.


Ia lalu berlari menjauhiku.
Aku mengambil pedang dari warga desa yang telah mati dan mengenggamnya dengan
kedua tanganku. Serigala tadi bangun dan menatapku dengan tajam. Serigala itu
lalu menyerangku dari arah depan. Aku melompat ke kiri dan berhasil menghindari
serangannya. Aku lalu berbalik dan balas menyerang serigala itu. Tiba-tiba,
seekor serigala lain melompat dari sampingku. Aku terjatuh dan perutku terluka. Aku mencoba untuk berdiri dan
dihadapanku ada dua ekor serigala. Pedangku terjatuh di samping serigala
tersebut.


“Sial... Aku sulit untuk
melawan serigala ini tanpa senjata. Aku tidak mungkin menang dengan tangan
kosong dan tubuh yang terluka,” ujarku.


Dua ekor serigala itu berlari dan
melompat kearahku. Tiba-tiba, sebuah botol terlempar dan terjadi ledakan. Aku
terjatuh akibat ledakan itu kemudian seseorang menghampiriku.


“Tampaknya kau sedang
kesulitan nak. Perlu bantuanku?” ujar Xenoc kepadaku.


Aku lalu tersenyum dan Xenoc
lalu membantuku untuk berdiri. Tinggal satu serigala yang tersisa. Xenoc
memberikan senjata kepadaku dan memberikan aba-aba untuk menyerang. Dengan
cepat, aku dan Xenoc menyerang secara bersama-sama dan berhasil membunuh
serigala itu.


“Sepertinya kita telah berhasil
membunuh semua serigala-serigala yang ada. Aku tidak mengira kalau akan sesulit
ini,” ujarku.


“Ya, banyak korban yang
berjatuhan dan lebih banyak lagi yang terluka,” ujar Xenoc.


Aku melihat ke arah warga desa
yang selamat dan kebanyakan dari mereka terluka. Beberapa dari mereka terluka
parah dan terkapar di tanah. Kepala desa memerintahkan kami untuk kembali dan
membawa warga desa yang terluka untuk diobati.


“Utamakan yang terluka parah.
Kita harus segera menuju ke desa untuk mengobati mereka,” perintah kepala desa.


Kami lalu kembali menuju desa
sambil membawa yang terluka bersama kami. Serigala-serigala itu telah berhasil
kami bunuh, tapi aku masih merasa ada yang janggal.


“Rith, dari tadi kuperhatikan
kalau kau selalu membawa benda itu di punggungmu. Bahkan dalam pertarungan
tadi, kau tetap membawa benda itu. bukankah akan lebih baik bila kau
menitipkannya dahulu sebelum kita berangkat ke hutan? Lagipula, pertarungan
tadi menjadi lebih sulit karena kau terus membawa benda itu sambil bertarung,”
tanya Xenoc kepadaku.


“Aku tidak akan pernah
meninggalkan ataupun menitipkan benda ini. Ada hal yang harus kulakukan dengan
benda ini,” jawabku kepadanya.


Beberapa saat kemudian, aku
menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Aku terdiam selama beberapa
saat dan kembali berjalan.


“Ada apa Rith? Sepertinya ada
sesuatu yang mengganggumu,” tanya Xenoc kepadaku.


“Ah, tidak. Tidak ada
apa-apa,” jawabku kepadanya.


Xenoc sedikit heran melihat
sikapku itu. Setelah berjalan cukup jauh, kami akhirnya tiba di desa. Para
wanita dan anak-anak mengerumuni kami. Mereka
tampaknya bahagia melihat kepulangan kami. Beberapa dari mereka terlihat sedih
karena kehilangan anggota keluarganya. Kepala desa memerintahkan kami semua
untuk pulang dan beristirahat.


“Rith, kau terlihat begitu
lelah. Kau bisa tinggal selama beberapa hari di rumahku untuk memulihkan
tubuhmu,” ujar Xenoc kepadaku.


“Terima kasih, tapi aku tidak punya waktu
sebanyak itu untuk bersantai-santai. Aku harus pergi ke suatu tempat dan
sepertinya aku hanya akan tinggal selama semalam saja,” balasku kepadanya.


“Tapi, saat ini tubuhmu sedang
terluka parah. Apalagi saat kau memaksakan diri untuk bertarung dengan keadaan
terluka seperti tadi. Kalau kau memaksakan diri lebih dari ini, maka tubuhmu
akan cacat secara permanen,” ujar Xenoc kepadaku.


Aku menunduk dan memalingkan
tubuhku darinya. Sepertinya beberapa lukaku sebelumnya kembali terbuka akibat
pertarungan tadi. Aku menyentuh perutku dan mengangkat tanganku yang berlumuran
darah. Tubuhku mulai merasakan sakit dan tampaknya pengaruh cairan yang tadi
diberikan oleh Xenoc telah hilang. Warga desa lainnya kemudian berpencar dan
berjalan menuju ke rumahnya masing-masing. Aku hanya berdiri dengan pikiran
yang kosong sambil menatap tanganku. Xenoc menghampiriku dan menyentuh pundakku
lalu tiba-tiba, terdengar suara lolongan serigala yang sangat keras dari dalam
hutan.


“Su... Suara itu... Ternyata,
dugaanku tadi benar,” ujarku.


Warga desa lainnya ikut
terkejut dan menghentikan langkahnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara
lolongan yang sama kerasnya dan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Warga
desa lainnya berlarian menuju ke rumahnya masing-masing dan bersembunyi. Kepala
desa memerintahkan kepada warga desa yang masih sehat untuk kembali berkumpul
dan bersiap-siap untuk menghadapi makhluk buas ini.


“Rith, kau mundur saja dan bersembunyi.
Tubuhmu sudah terlalu lemah untuk bertarung lagi,” perintah Xenoc kepadaku.


“Aku tidak akan menyerah hanya
karena hal seperti ini. Lagipula, dari suara lolongan dan langkah kakinya,
sepertinya makhluk ini lebih besar dan buas,” jawabku.


“Lebih besar dan buas? Apa
maksudmu makhluk ini sama dengan serigala besar yang kau lawan kemarin malam?”
tanya Xenoc kepadaku.


“Tidak, aku merasa kalau makhluk ini bukan
seperti makhluk yang kulawan kemarin malam. Makhluk ini sepertinya berbeda dan
aku punya perasaan yang buruk tentang ini,” jawabku.


Aku mengeluarkan pedangku dan
menggenggamnya dengan kedua tanganku sementara Xenoc mengeluarkan senjata dan
botol-botolnya. Suara langkah kaki itu semakin mendekat dan semuanya
bersiap-siap untuk melawan. Tiba-tiba, seekor makhluk busa melompat kemudian
makhluk itu melolong dengan keras. Makhluk itu menyerupai serigala tetapi
tubuhnya berbentuk seperti manusia dan mempunyai ukuran yang lebih besar dari manusia
biasa. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh bulu dan kepalanya menyerupai kepala
serigala. Makhluk ini berdiri dengan dua kakinya dan berjalan mendekati kami
dengan tatapan yang tajam.


“Sudah kuduga,
serigala-serigala itu tidak bergerak dengan sendirinya. Ternyata makhluk itulah
yang mempengaruhi serigala-serigala tadi,” ujarku.


Salah seorang warga desa maju
dan menyerang makhluk itu dari samping tetapi makhluk itu membalas dengan
cakarnya. Serangan makhluk itu melukai sekaligus menghempaskan warga desa tadi
dan membuatnya terkapar. Xenoc lalu melemparkan botol berwarna merah ke arah
makhluk itu kemudian terjadi ledakan. Makhluk itu melompat dan berhasil
menghindari ledakan tadi. Warga desa lainnya melempari makhluk tersebut dengan
pisau dan batu. Makhluk itu menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya untuk
menahan serangan tadi. Ia lalu mendarat di tanah dan berlari menuju warga desa
lainnya. Serangannya begitu cepat dan dalam waktu singkat, banyak warga desa
yang terluka parah dan terkapar akibat serangan dari makhluk itu. Semakin lama,
lukaku terasa semakin sakit dan tubuhku menjadi semakin lemah. Tubuhku semakin
sakit kemudian, makhluk itu melihat ke arahku dan menyerang. Xenoc menangkis
serangan makhluk itu tetapi lengannya terluka dan ia terhempas ke tanah.


“Ugh, kuat sekali makhluk itu.
Aku tidak sanggup untuk menahan serangannya,” ujar Xenoc sambil memegang tangan
kanannya yang terluka.


Makhluk itu kembali
menyerangku tetapi aku berhasil menghindar walaupun dadaku sedikit terluka oleh
serangannya. Aku terus menghindar dan menangkis serangan makhluk itu dan luka
di tubuhku semakin banyak dan semakin parah. Aku menjauh dari makhluk itu dan
lama kelamaan tubuhku mulai sulit untuk digerakkan dan pandangan mataku sudah
mulai kabur. Aku melihat makhluk itu menghampiriku dan bersiap untuk
menyerangku.


“Ukh... Sial... Sial...
Tubuhku sudah mulai tidak sanggup lagi. Aku hanya punya sedikit tenaga untuk
bergerak lagi. Ini memang gegabah, tapi saat ini aku sedang sangat terdesak,”
ujarku.


Makhluk itu semakin mendekatiku.
Aku lalu menutup kedua mataku dan membaca mantera.


“B... Berserk... Rage...,”
ujarku dengan tertatih-tatih.

Tiba-tiba, muncul kobaran api yang
berputar disekelilingku. Dari tubuhku, keluar aura yang sangat kuat. Aura yang
keluar dari tubuhku
itu berubah menjadi merah membara. Mataku menjadi berwarna merah dan dengan seketika, aku
menangkis serangan makhluk itu dan melukai dadanya dengan pedangku. Makhluk itu
kemudian melompat da menyerangku dari atas. Aku melompat ke belakang dan
menghindari serangannya. Aku mencoba untuk menusuknya tetapi berhasil ditangkis
oleh makhluk itu. kemudian, aku menendang perut makhluk itu dan melemparkan
senjataku kearahnya. Makhluk itu terjatuh dan lemparan senjataku berhasil
melukai tangannya. Makhluk itu kembali melolong dan berlari kearahku kemudian
ia menyerangku. Serangannya melukai tangan kaki kiriku kemudian aku
menghempaskan makhluk itu ke atas. Aku lalu membaca mantera kemudian kobaran
api di sekelilingku mulai terpusat pada kedua tanganku. Aku mengarahkan tanganku
pada makhluk itu dan menembakkan api dari tanganku. Makhluk itu menutupi
tubuhnya dengan kedua tangannya. Beberapa saat kemudian, terjadi ledakan yang
dashyat. Makhluk itu terluka parah tetapi ia masih bisa berlari ke arahku. Aku
mengambil pedangku dan berlari ke arahnya kemudian, kami
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
shiningforcefx
Corporal
Corporal


Male
Jumlah posting : 82
Age : 27
Lokasi : Jakarta Barat
Registration date : 24.07.08

Written On The Star
Star of Destiny: Tenkai Star
Race: Human

PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Sun Sep 21, 2008 10:08 am

berdua saling menyerang dan
berhenti. Makhluk itu lalu terjatuh ke tanah dan mendadak, aku merasakan sakit
yang luar biasa dari dadaku. Aku berteriak dengan kencang sambil memegang
dadaku dan terjatuh ke tanah. Xenoc terus berteriak memanggilku dan lama
kelamaan suara teriakannya mulai hilang dan mataku terpejam.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: The Story of Vangardia   Today at 9:19 pm

Kembali Ke Atas Go down
 
The Story of Vangardia
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» [True Story] Merasakan Cinta Tak Harus Memiliki
» [SAD STORY] Topi Hitam-Putih anakku...(dijamin nangis)
» Crime Story #2 : Akhir Petualangan "Whitey Bulger"
» TEROR,PSYCHOPATH,AND CRIMINAL TRUE STORY NEED COMMENT!! AND SOLUTION...
» Fanfic-> Coba Hapus Jejakmu, The Naruto Story~

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Sharing Fate Together :: Museum :: Story Telling-
Navigasi: